Ada 1.000.000 pembaca Rss Feed sudah bergabung, Sudahkah anda?

Berbagi Kebaikan Untuk Kemaslahatan Ummat

Rabu, 25 Juli 2012

Bebarapa Masalah Berkaitan Dengan Ramadhan


1. Berpuasa tapi tidak shalat
Perlu diingat, bahwa ada sebagian orang -semoga Allah menunjukinya- mungkin ia berpuasa tetapi tidak shalat, atau hanya shalat pada bulan Ramadhan saja. Orang seperti ini puasanya tidak berguna baginya, juga hajinya maupun zakatnya. Karena shalat adalah sendi agama Islam yang tanpanya Islam tidak akan tegak.
Barangsiapa berpuasa tetapi meninggalkan shalat, berarti ia meninggalkan rukun Islam terpenting setelah tauhid. Puasanya sama sekali tidak bermanfaat baginya, selama ia meninggalkan shalat. Sebab shalat adalah tiang agama, di atasnyalah agama tegak. Dan orang yang meninggalkan shalat hukumnya kafir. Orang kafir tidak diterima amalnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda:
"Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir." (HR. Ahmad dan para penulis kitab Sunan dari hadits Buraidah z).

Jabir radhiallahu anhu meriwayatkan, Rasulullah Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda:
"(Batas) antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat." (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Tentang keputusanNya terhadap orang-orang kafir, Allah berfirman, artinya: "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (Al-Furqaan: 23).

Maksudnya, berbagai amal kebajikan yang mereka lakukan tidak karena Allah, niscaya Kami hapus pahalanya, bahkan Kami menjadikannya bagai debu yang beterbangan.

Adapun meninggalkan shalat berjama'ah atau mengakhirkan shalat dari waktunya, maka perbuatan tersebut merupakan maksiat dan dikenai ancaman yang keras. Allah berfirman, artinya: "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya." (Al-Ma'un: 4-5).

Maksudnya, mereka lalai dari shalat sehingga waktunya berlalu.
Nabi Muhammad tidak mengizinkan orang buta (Abdullah bin Ummi Maktum) yang tidak mendapatkan orang yang menuntunnya ke masjid untuk shalat (wajib lima waktu) di rumah, bagaimana pula halnya dengan orang yang matanya awas dan sehat yang tidak ada halangan baginya?
Berpuasa tetapi meninggalkan shalat atau tidak shalat berjama'ah adalah pertanda nyata bahwa ia berpuasa itu tidak karena mentaati perintah Allah. Jika tidak, kenapa ia meninggalkan kewajiban yang utama (shalat)? Padahal kewajiban-kewajiban itu merupakan satu rangkaian utuh yang tidak terpisah-pisah, bagian yang satu menguatkan yang lain. (Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al-Jarullah, Risalah Ramadhan, Al-Sofwa Jakarta, cetakan II, 1419H/ 1998M, hal 93-95).
 
2.Masalah membatalkan puasa tanpa ada 'udzur syar'i
Ada ancaman berat dari Nabi Muhammad  atas orang yang membatalkan puasa Ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan dalam agama. Nabi  bersabda:
"Ketika aku tidur, datanglah dua lelaki lalu memegang dua lenganku, lalu membawaku ke gunung yang terjal, maka keduanya berkata: 'Naiklah.' Aku jawab; 'Aku tidak dapat naik.' Lalu keduanya berkata: 'Kami akan memudahkanmu naik.' Maka akupun naik. Baru saja aku di atas gunung tiba-tiba aku dengar suara yang keras. Akupun bertanya: 'Suara apakah ini?' Keduanya menjawab: 'Ini adalah jeritan penghuni neraka.' Kemudian keduanya membawaku, tiba-tiba aku berada pada suatu kaum yang digantung, kakinya di atas, mulut-mulut mereka robek, mulut-mulut mereka mengalirkan darah. Nabi berkata: Aku bertanya: 'Siapakah mereka itu?' Lelaki itu menjawab: 'Orang-orang yang berbuka sebelum waktunya.'" (Hadits Riwayat An-Nasaa'i dalam Al-Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf (4/166) dan Ibnu Hibban (no 1800-zawaidnya) dan Al-Hakim (1/430) dari jalan Abdur Rahman bin Yazid bin Jabir, dari Salim bin Amir, dari Abu Umamah, sanad-nya shahih.)

3. Masalah Hadits-hadits dha'if (lemah) tentang Ramadhan yang tersebar
Hadits-hadits dha'if yang tersebar dan disampaikan di kalangan ummat pada Bulan Ramadhan di antaranya:
1. "Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di bulan Ramadhan pasti ummatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya Surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya...." hadits ini panjang.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (no. 1886) dan dinukil oleh Ibnul Jauzi dalam Kitabul Maudhu'at (Kitab tentang Hadits-hadits palsu, 2/188-189) dan Abu Ya'la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al-Muthalibul Aaliyah (Bab A-B/ manuskrip) dari jalan Jabir bin Burdah, dari Abi Mas'ud Al-Ghifari.
Hadits ini Maudhu' (palsu), cacatnya pada Jabir bin Ayyub, riwayat hidupnya dinukil Ibnu Hajar dalam Lisanul Mizan (2/101) dan (beliau) berkata: "Terkenal dengan kelemahan (dha'if)" beliau juga menukil ucapan Abu Nu'aim tentangnya: "Dia itu suka memalsukan hadits". Al-Bukhari juga berkata: "Haditsnya tertolak", dan menurut An-Nasai, "matruk" (ditinggalkan/tidak dipakai haditsnya)"!!

2. "Wahai manusia sungguh telah datang pada kalian bulan yang agung, bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban, dan shalat malamnya sebagai sunnat. Barangsiapa mendekatkan diri di dalamnya dengan suatu perkara kebaikan maka dia seperti orang yang menunaikan suatu kewajiban pada bulan lainnya.. dialah bulan yang awalnya itu rahmat, pertengahannya itu maghfirah/ampunan, dan akhirnya itu 'itqun minan naar/bebas dari neraka.." sampai selesai.

Dua murid terpercaya Syeikh Al-Bani (wafat 2 Oktober 1999) yakni Syeikh Ali Hasan dan Syeikh Al-Hilaly mengemukakan, hadits itu juga panjang dan dicukupkan dengan membawakan perkataan ulama yang paling masyhur.
Menurut murid ahli hadits ini, hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah juga, (no. 1887), dan Al-Muhamili di dalam Amali-nya (no 293) dan Al-Ashbahani di dalam At-Targhib (Q/178, B/ manuskrip) dari jalan Ali bin Zaid Jad'an dari Sa'id bin Al-Musayyib dari Salman.
Hadits ini, menurut dua murid ulama Hadits tersebut, sanadnya dhaif (lemah) karena lemahnya Ali bin Zaid. Ibnu Sa'ad berkata: "Di dalamnya ada kelemahan dan jangan berhujjah dengannya," dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, "Tidak kuat". Ibnu Ma'in berkata: "Dha'if." Ibnu Abi Khaitsamah berkata: "Lemah di segala segi", dan Ibnu Khuzaimah berkata: "Jangan berhujjah dengan hadits ini karena jelek hafalannya." demikianlah di dalam Tahdzibut Tahdzib (7/322-323).

3. "Berpuasalah maka kamu sekalian sehat."
Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al-Kamil (7/2521) dari jalan Nahsyal bin Said, dari ad-Dhahhak, dari Ibnu Abbas.
Nahsyal itu termasuk yang ditinggal (tidak dipakai) karena dia pendusta, sedang Ad-Dhahhaak tidak mendengar dari Ibnu Abbas.
Dan diriwayatkan oleh at-Thabrani di dalam Al-Ausath (1/Q, 69/ Al-Majma'ul Bahrain) dan Abu Na'im di dalam At-Thibbun Nabawi, dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhai bin Muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih, dari Abi Hurairah. Sanadnya dha'if (lemah). (Berpuasa menurut Sunnah Rasulullah  , hal. 84).
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Karena Hidup Hanya Sekali ...


Seberat apapun beban hidup kita hari ini ...
Sekuat apapun godaan yang harus kita hadapi…..
Sekokoh apapun cobaan yang harus kita jalani….
Sebesar apapun kegagalan yang kita rasai……
Sejenuh apapun hari-hari kita lalui…….

Jangan pernah berhenti berharap pada pertolongan Ilahi ...
Jangan pernah berhenti berdoa kepada Rabbi
Karena harapan adalah masa depan
Karena harapan adalah sumber kekuatan
Karena doa adalah pintu kebaikan
Karena doa adalah senjata orang beriman.

Kita mungkin pernah merasakan betapa tidak berartinya
hidup ini, jenuh dan membosankan. Kita seperti manusia yang tidak ada gunanya lagi hidup di dunia. Hari-hari yang kita lalui hampa tiada arti.
Kegagalan kita temui disana-sini. Cobaan dan rintangan kita hadapi tiada henti.
Beban hidup tarasa berat menjerat. Bagi mereka yang tidak punya iman, mengakhiri hidup yang indah ini seringkali menjadi pilihan.

Hidup ini hanya sekali, terlalu indah untuk kita buat sia-sia, karena memang Allah menciptakan makhluknya tidak untuk sia-sia.
Betapa bahagianya hidup ini bila kita jalani dengan penuh semangat dan optimisme yang tinggi.
Betapa indahnya hidup ini bila hari-hari kita jalani dengan senyum kebahagiaan dan sikap positif memandang masa depan.
Betapa sejuknya bila kita sabar menghadapi setiap permasalahan, kemudian kita berusaha
memecahkannya dan mengambil ibroh dari setiap kejadiaan.

Sebuah pakupun akan menghadapi masalah pada tubuhnya bila tidak tepat menempatkan diri. Bila ia terletak di tanah basah, suatu saat ia akan berkarat, tidak memiliki guna, terinjak, bahkan mungkin suatu saat akan terkubur bersama karat yang menyelimutinya. Tapi bila kita bisa menempatkannya di tempat yang tepat, kita tancapkan pada sebuah dinding, walaupun ia berkarat, paku itu berguna bagi manusia. Sebagai penyangga, tempat gantungan, atau sebagai penyatu berbagai benda.
Begitu pula kehidupan manusia. Bila kita tidak tepat menempatkan diri
kita, tidak sadar siapa diri kita, tidak tahu untuk apa kita di dunia, kita
hanyalah seonggok jasad hidup yang terlunta-lunta.
Bila kita tidak memanfaatkan potensi yang ada, selalu memandang negatif setiap
peristiwa, membiarkan diri berlumur dosa, bahkan tidak tahu dengan Sang Pencipta, kita adalah makhluk hidup yang tidak berguna. Kemudian hidup ini pun terasa berat untuk kita lalui.

Masalah dan cobaan adalah bunga kehidupan orang-orang beriman.
Kembalilah kepada Tuhan bila kita menghadapinya agar kita tenang.
Lihat, apakah kita sudah tepat menempatkan diri.
Jangan menjadi paku yang terletak di tanah basah.
Tapi jadilah paku yang dapat menyangga kehidupan manusia.
Walaupun kecil, tanpa paku itu sebuah bangunan besar tidak akan pernah berdiri
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Selasa, 24 Juli 2012

Persinggahan Ramadhan

Saudaraku!
“Hiduplah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang yang melintas sebuah jalan” (HR. al-Bukhori).
 Begitulah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengilustrasikan hidup ini sebagai sebuah perjalanan. Roda kehidupan ini terus berputar dan  bergelinding tanpa henti, yang lalu tak akan pernah kembali, bahkan detik ini pun sudah pasti akan meningggalkan kita sesaat ketika detik berikutnya telah sampai.
Tapi perjalanan panjang juga membutuhkan persinggahan untuk berhenti. Di saat sang musafir berhenti, banyak hal yang bisa dilakukan selain sekedar untuk melepas lelah, memberikan hak badan untuk sejenak beristirahat. Pada saat yang sesaat inilah, ia dapat menyusun rencana dan strategi baru, melakukan muhasabah terhadap perjalanan yang telah dilalui, mengumpulkan spirit dan semangat yang mungkin telah berkurang, menata diri untuk lebih siap dan tahan banting menghadapi situasi dan kondisi yang mungkin tak terduga. Itulah sebabnya kenapa seorang yang banyak melakukan dan merasakan asam garam perjalanan, biasanya lebih dapat bertahan dalam menghadapi kondisi hidup yang sangat sulit sekalipun. Dalam sebuah bait sya’ir, Imam Syafi’i pernah berkata: “Berjalanlah niscaya akan engkau dapatkan pengganti apa yang engkau tinggalkan, berletih-letihlah  karena sungguh nikmat hidup terasa dalam keletihan”(Diwan Syafi’i, Da’wah ila al-tanaqqul wa al-tirhal 1/3) ).
Saudaraku!
Begitu juga dengan ibadah, ia ibarat rentetan perjalanan jauh yang membutuhkan mujahadah yang tinggi dan nafas panjang. Sebab ibadah yang berkwalitas adalah ibadah yang jauh dari sekedar melaksanakan rutinitas belaka serta menggugurkan tanggung jawab kita sebagai seorang mukallaf. Disadari, terkadang rutinitas ibadah justru menghilangkan sentuhan makna ruhaniyah yang terkandung di dalamnya, ia melahirkan kejenuhan, sehingga pelaksanaannya terkesan seadanya tanpa meninggalkan bekas yang berarti. Padahal setiap kita dituntut untuk memelihara identitas keislaman kita secara utuh, secara konsisten hingga ajal menjemput. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan sembahlah Tuhanmu hingga datang keyakinan (kematian)” (QS al-Hijr: 99), semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang terus berusaha menjaga keshalehan hingga desahan nafas yang terakhir.
Saudaraku!
Di saat dilanda kejenuhan inilah, seorang hamba perlu untuk singgah sejenak, berhenti sesaat, menghadirkan semangat baru, menghadirkan sentuhan keimanan yang mungkin telah kendur, bahkan mungkin terkikis tajam hingga hampir tak tersisa, berusaha menata kembali formasi keshalehan walau sebentar, mungkin seperti ungkapan sahabat yang mulia Muadz bin Jabal Radhiyallahu’anhu : “Mari sejenak kita beriman” (Disebutkan oleh al-Bukhori dalam muqaddimah Kitab al-Iman dari Shahih al-Bukhari)
Saudaraku!
Hampir tak terasa perjalanan setahun mengantarkan kita untuk sampai di dekat sebuah persinggahan imaniyah tahunan, persinggahan yang sangat dinantikan oleh setiap muslim, pecandu dan penikmat ibadah, perindu malam-malam munajat, yang melahirkan kerinduan yang tak terhingga akan nikmat syurga Ilahi serta menghadirkan rasa takut akan adzab dan siksa neraka. Hari-harinya diisi dengan shiyam, mengekang gejolak syahwat perut dan hasrat seksual manusiawi, menahan dahaga walaupun terik matahari siang begitu melelahkan. Malam-malamnya tak kala syahdu, lantunan-lantunan kalam Ilahi menggetarkan jagad raya lewat tilawah dan qiyam, do’a mengalir laksana air mengalir tak henti memohon kebaikan duniawi dan ukhrowi.  Bahkan tidurpun begitu nikmat karena menunggu jeda kegembiraan yang tak terukur. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Bila malam pertama Ramadhan tiba, syetan-syetan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak satupun yang dibuka, pintu-pintu syurga dibuka dan tidak satupun yang ditutup. Di saat itu terdengar seruan: “wahai perindu kebaikan! Hadir dan datanglah!, wahai pencinta kejahatan! Pergi dan menjauhlah!” (HR. Ibnu Majah no. 1646 disahihkan oleh al-Bani).
Saudaraku!
Di persinggahan ini kita diajak membuka mata dan hati, meilhat di sekeliling kita, ternyata kita hidup tidak sendiri.  Begitu banyak saudara-saudara kita yang perlu untuk dibantu dan ditolong untuk memaknai hidup agar lebih berarti. Di persinggahan ini kita dianjurkan untuk banyak berbagi, berbelas kasih bersama kaum fakir dan miskin walaupun hanya dengan seteguk air dan sepotong kue. Percayalah sobatku! Di persinggahan ini kita mampu menyelami lautan makna sabda Rasulullah : “Perumpamaan orang-orang beriman dalam rasa cinta, tolong menolong, kasih sayang di antara mereka ibarat satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh tersebut merasa sakit maka bagian yang lain juga merasakan sakit tersebut sehingga tak dapat tidur dan mengalami demam” (HR. Muslim no. 6751)
Bayangkanlah wahai saudaraku! Kalau seandainya si fakir yang terus menerus menahan perih kelaparan, si miskin yang serba kekurangan, si yatim yang merindukan belaian kasih sayang ayah dan ibu, si janda yang butuh perlindungan seorang suami, itu adalah diri kita, kita berada dalam posisi mereka, sungguh hati ini begitu gembira tak kala ada  sesama yang peduli dan berbagi. Wajarlah, jika baginda Nabi berubah menjadi orang yang paling dermawan di persinggahan ini.
Saudaraku!
Persinggahan ini juga mengajarkan kepada kita bahwa kita harus berubah ke arah yang lebih baik. Perubahan itu begitu jelas nyata di persinggahan ini, semuanya tiba-tiba berubah. Pola makan minum, gaya hidup, bahkan kwalitas ketaatan kepada Allah juga mengalami perubahan yang sangat drastis.  Pola hidup yang serba glamour dapat dirubah menjadi hidup lebih sederhana, sifat ketamakan dan kerakusan dapat dirubah menjadi kesyukuran dengan sifat qona’ah (merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah). Sifat keangkuhan dapat dirubah dengan sifat tawadhu’ dan rendah diri. Jauh dari tuntunan agama dapat dirubah menjadi ketaatan walaupun setahap demi setahap.
Tidak ada yang mustahil bagi Allah saudaraku!, semuanya dapat dirubah dengan idzin dan taufik-Nya. Tinggallah kita mau memanfaatkan momentum perubahan ini atau tidak. Hidup  akan lebih indah dan bermakna kalau disertai tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Saudaraku!
Ketahuilah, bahwa persinggahan ini hanya berbilang hari, persinggahan ini hanya sebentar dibandingkan perjalanan setahun, hanya sesaat dibandingkan usia yang diberikan oleh Allah kepada kita. Entah, kita tidak dapat memastikan, apakah tahun depan kita dapat sampai lagi di persinggahan ini atau tidak?. Cuma Allah Yang Maha Tahu.
Benar, wahai saudaraku! persinggahan ini adalah persinggahan Ramadhan, bulan mulia penuh berkah, ampunan dan rahmat.
Ya Allah sampaikanlah kami untuk merasakan nikmatnya karunia Ramadhan, kuatkanlah kami untuk dapat melaksanakan tuntunan-Mu di bulan yang engkau ridhai ini.
Ya Allah jadikanlah bulan ini menjadi persinggahan kami yang paling berarti, jangan Engkau jadikan kami menjadi orang yang lalai di detik-detik mulia nan berharga ini. Amin.
Awal Sya’ban 1430 H.
Ahdy al-Makassary
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Sabtu, 12 Mei 2012

Bersikap Santun kepada Fir'aun

Siapa yang tidak kenal Fir'aun?, sosok manusia yang namanya diabadikan oleh Allah berkali-kali dalam al-Qur'an  melebihi penyebutan nama dan kisah sebagian dari pada Nabi dan Rasul-Nya. Bukan karena prestasi ketaatan dan ketundukan, tapi karena sederet kisah kesombongan, keangkuhan, kebengisan dan hal-hal keji yang lain yang sulit untuk dirangkai dengan kata-kata sederhana.
Dengan segala kesombongan ia memproklamirkan dirinya adalah tuhan yang patut  disembah, seraya menafikan Rab Yang Maha Mulia. "Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagi kalian selain aku" (al-Qashash: 38) . Sebagai penguasa, ia mengklaim bahwa Mesir dan seluruh kekayaannya berada dan tunduk dalam kekuasaanya. "Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku, maka apakah kalian tidak melihatnya?" (al-Zukhruf: 51). Bahkan dengan segala kekuatan yang dimilikinya, diktator nomor wahid ini melarang seseorang untuk berpaling darinya dan beriman  kepada Allah Yang Haq kecuali dengan izinnya yang disertai dengan ancaman-ancaman yang menakutkan. "Berkata Fir'aun: "Apakah kalian telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepada kalian…… Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kalian dengan bersilang secara bertimbal balik dan aku akan menyalib kalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksaanya" (Thaha: 71). Di ayat yang lain, "Fir'aun berkata: "Sungguh jika kamu menyembah selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan" (al-Syu'araa: 29).
Lebih dari itu, terkadang dengan santainya ia melecehkan uluhiyah dan rububiyah al-Khaliq Yang Maha Tinggi dan Agung. "Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, bangunkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu.  (Yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sungguh aku menyangka ia adalah seorang pendusta" (al-Mu'min: 36-37). Tentu Fir'aun tidak sedang serius ketika mengucapkan kalimat ini, karena Haman (sang mentri) pasti tidak mampu mengerjakan proyek bualan ini, tetapi ia ingin melecehkan Allah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Agung. Na'udzu billah min dzalik.
Kalau kapada Allah Ta'ala saja dengan mudahnya ia lecehkan, maka apalagi hanya dengan utusan-Nya (Musa 'Alaihissalam). "Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak mampu menjelaskan (perkataannya)" (al-Zukhruf: 52). Bahkan, terkadang ia menampakkan rasa iba dan simpati kepada rakyatnya untuk mencari pembenaran untuk menghukum bahkan membunuh Musa 'Alaihissalam yang dianggapnya sebagai pembangkang dan penghalang kekuasaannya. "Dan berkata Fir'aun: "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian dan menimbulkan kerusakan di muka bumi" (al-Mu'min: 26).
Inilah secuil dari deretan kisah kedurhakaan Fir'aun yang berulang-ulang disebutkan di dalam berbagai surah dalam al-Qur'an. Maka sangatlah amat wajar jika segala umpatan dan cacian kasar dialamatkan kepadanya.
Tetapi manhaj Ilahi tetaplah manhaj yang tetap kekal dan segar tanpa harus mengalami pergeseran makna. Manhaj yang mengajarkan kepada kita keluhuran budi pekerti, sopan santun dalam berbuat, berprilaku dan berkata-kata. Manhaj ini bukanlah sekedar untaian kata-kata indah, bukan teori yang muluk-muluk, melainkan manhaj yang harus diterjemahkan secara nyata dalam lapangan kehidupan. Ia harus menjadi warna yang cerah di tengah warna-warni yang kelam. Ia adalah  manhaj yang sangat berpihak dan paling memahami fitrah kemanusiaan di tengah-tengah carut marutnya qanun wadh'iy (aturan manusia) yang konon katanya paling faham arti hak asasi manusia dengan segala embel-embelnya.
Tetapi, dengan segala keburukan track record yang dimiliki oleh Fir'aun, Allah mengutus kepadanya Nabi Musa dan Harun 'Alaihimassalam untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah dengan penuh kesantunan, kearifan dan kelembutan tanpa harus mengikis mabda'  (prinsip dasar) yang diyakini kebenarannya. Allah Ta'ala berfirman : "Pergilah kalian berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut" (Thaha: 43-44). Dalam ayat yang lain, "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Dan katakanlah : "Adakah keinginan pada dirimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)"  (al-Nazi'at: 17-18).
Inilah manhaj al-Rifq, manhaj yang mengajarkan kepada kita bersikap santun dalam berbuat dan berkata-kata. Bersikap santun dengan mengedepankan akhlaq mulia. Bersikap santun dalam mencarikan solusi yang terbaik dan termudah. Bersikap santun dalam memahami tabiat dan karakter orang lain. Begitulah ruang lingkup makna al-rifq seperti yang dikemukakan penulis kamus Mukhtar al-Shihah.
Dalam sirah Sang Panutan Shallallahu'alaihi wasallam, betapa terasa manhaj ini hadir dan terus mengalir dalam berbagai kondisi dan obyek dakwah. Betapa tidak, beliau menjadi penengah yang bijak takkala seorang arab badui (yang memang bertabiat kasar) kencing di salah satu pojok mesjid tanpa merasa bersalah. Beliau menjadi guru yang sangat santun ketika mengajarkan sahabat Muawiyah ibn Hakam yang terjatuh dalam kesalahan –yaitu berbicara- ketika sholat telah dilakukan. Bahkan, kepada pemuda yang datang meminta izin kepadanya untuk berzina, Beliau manjadi pendengar yang baik dan santun sekaligus memberikan solusi logis yang tak terbantahkan. Bahkan suatu ketika, beliau menceritakan kisah seorang wanita yang diazab oleh Allah karena menyiksa dan tidak bersikap santun  kepada seekor kucing.
Sunguh tepat kalau Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Hendaklah engkau bersikap lembut dan hindarilah bersikap keras dan kasar, karena tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali akan menambah indah sesuatu itu, dan tidaklah (kelembutan) itu dicabut dari sesuatu kecuali akan menambah jelek sesuatu itu" (HR. Muslim). Dalam sabdanya yang lain Beliau berkata: "Barang siapa yang tidak memiliki kelembutan maka ia diharamkan dari seluruh kebaikan" (HR. Muslim). Teori dan aplikasi kesantunan yang luar biasa yang wajib dicontoh oleh setiap muslim.
Dalam dunia dakwah, betapa setiap da'i sangat membutuhkan kehadiran al-rifq dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah. Ia membutuhkannya ketika ia berhadapan dengan orang tua, muda bahkan kepada anak kecil,  kepada pendosa apalagi kalau memang  sudah taat, hatta kepada siapapun, karena manusia tetaplah manusia, sebejat apapun ia masih memiliki perasaan yang bertemu dalam satu titik, semua ingin diperlakukan secara santun, bukan dengan sikap kasar apalagi sampai mencaci dan mengumpat.
Kiranya, wejangan Sufyan al-Tsauri Rahimahullah patut untuk dijadikan pijakan, beliau berkata: "Seseorang tidak pantas untuk beramar ma'ruf nahi munkar kecuali jika telah memenuhi tiga karakteristik, bersikap lembut terhadap apa yang  ia serukan dan ia larang, bersikap adil terhadap yang ia serukan dan ia larang dan berilmu terhadap yang ia serukan dan ia larang". Allah Ta'ala berfirman: "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka" (al-Imran: 159). Wallahua'lam.
 oleh: Ahmad Hanafi
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Memilih dan Dipilih Oleh: Ahmad Hanafi

Kalau mau direnungkan secara mendalam, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan  sederhana, bahwa salah satu aktifitas yang paling sering kita lakukan dalam hidup ini adalah memilih. Memilih salah satu dari dua alternatif atau mungkin lebih. Mulai dari hal yang terkecil sampai hal-hal yang ruwet, ternyata kita diperhadapkan dengan kenyataan, bahwa kita harus memilih.

Ketika sepasang suami istri dikaruniai seorang anak, maka keduanyapun akan sibuk memilih nama yang terbaik untuk sang buah hati. Ketika masuk usia sekolah maka proses memilih akan berlanjut ke sekolah mana yang paling baik untuk menjadi rumah kedua bagi sang anak. Ketika berusia dewasa dan telah mampu menikah maka pilihan berumahtangga akan menjadikan sang anak menjalani proses memilih calon pendamping hidup, sampai mungkin melakukan sholat istikharah berkali-kali, sebelum menentukan pilihan. Walakhir, sebagian di antara kita terutama mereka yang berada di penghujung usia, bahkan telah memilih tempat di mana ia akan dikuburkan ketika ajal telah menjemput. Makan, tempat tinggal, kendaraan, pakaian dan segala atribut kehidupan, semuanya tidak lepas dari sebuah proses memilih. Maka tidak salah, jika ada yang berkata bahwa hidup ini adalah sebuah proses memilih dan dipilih.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan sekaligus mencontohkan bagaimana cara memilih, memilih nama untuk anak, memilih calon suami atau istri, memilih imam dalam sholat berjama’ah, memilih pemimpin, bahkan memilih satu yang terbaik dari dua alternatif. Di dalam hadits dijelaskan:
 “Apabila Rasulullah diperhadapkan kepada dua pilihan, maka beliau akan memilih yang termudah dari keduanya, selama ia bukan sebuah dosa, kalau ia adalah dosa maka beliau adalah orang yang paling menjauhi perkara itu” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala pun ternyata memiliki hak mutlak untuk memilih diantara makhluk ciptaan-Nya untuk diberikan keutamaan dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain. Allah berfirman, yang artinya:
“ Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa  apa yang Dia kehendaki (al-Qashash: 68)
Masjidil Haram di Mekkah, masjid Nabawi di Madinah, masjid al-Aqsha di Palestina, adalah di antara tempat-tempat yang mulia yang telah dipilih oleh Allah. Waktu sepertiga malam terakhir, hari Jum’at, bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah waktu-waktu yang dipilih dan ditetapkan oleh Allah menjadi waktu yang memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh waktu-waktu yang lain. Bahkan antara satu amalan dengan amalan yang lainpun dibedakan oleh Allah Ta’ala. Dalam hadits Qudsi dijelaskan bahwa ibadah puasa memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh amalan dan ibadah ibadah yang lain, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya:
“Setiap amalan anak adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu amalan kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya antara sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kebaikan. Allah Azza wa Jalla berkata: “Kecuali ibadah puasa, karena sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku pun yang akan menentukan besarnya pahala (puasa) itu” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih kita menjadi salah satu dari sekian banyak makhluk ciptaan-Nya, kemudian ia telah memilih kita untuk menjadi seorang manusia, lantas menjadikan kita seorang yang berislam dan beriman, memilih kita menjadi pengikut Nabi dan agama pilihan. Sebuah nikmat agung yang patut untuk selalu diingat dan disyukuri. Alhamdulillah, Allah Ta’ala tidak menjadikan kita makhluk dalam bentuk yang lain, yang terkadang harus berada dalam posisi yang terhina dan terpinggirkan. Menjadi seorang manusia saja, adalah nikmat pilihan yang luar biasa, Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.(al-Isra’: 70)

Kian sempurna pilihan tersebut, takkala Allah Ta’ala memilih kita menjadi pengikut Nabi pilihan dan satu-satunya agama pilihan akhir zaman, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:
“Barang siapa yang mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi”. (al-Maidah: 85)
Menjadi manusia pilihan, bukan hanya sekedar nikmat yang patut disyukuri, tapi sekaligus ia mengandung konsekwensi dan tanggung jawab yang sangat besar, yang sekaligus menjadi proses seleksi apakah ia benar-benar pilihan atau hanya sekedar menyandang gelar tanpa prestasi yang diinginkan oleh al-Khaliq Jalla wa ‘Ala.

Seorang muslim ketika ia menyadari nikmat pemilihan tersebut, seharusnya melahirkan sebuah kesiapan rohani dan jasmani, fisik dan mental untuk diatur dan digembleng dalam aturan dan norma-norma pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tidak ragu untuk mendermakan hidupnya untuk di jalan Allah. Ia siap untuk beraqidah, beribadah dan bermuamalah serta berakhlaq sesuai dengan tuntunan sosok teladan manusia pilihan, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Semua sendi-sendi kehidupannya tershibgah (terwarnai) oleh nilai-nilai Ilahiyah murni nan luhur. Ia tidak pernah malu untuk memproklamirkan dirinya bahwa ia adalah seorang Islam yang memiliki izzah dengan agama pilihannya. Ia akan bersikap tegas terhadap segala hal yang dapat menodai kesucian agama pilihan. Semboyan hidupnya adalah “Sesunggunhya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya ku persembahkan kepada Rabb alam semesta”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan satu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata. (al-Ahzab: 36)
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Karena Hidup Harus Berubah Oleh : Ahmad Hanafi

Allah Ta’ala berfirman:
ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد
“Wahai orang-orang  beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. al-Hasyr: 18)
Hidup adalah perubahan dan perubahan adalah sebuah keniscayaan. Setiap yang lahir akan mengalami perubahan mulai dari bentuk fisik, kemampuan akal, sikap dan perilaku. Semuanya akan berubah seiring dengan pergeseran waktu dan peralihan zaman. Bahkan makhluk lain disekeliling kitapun mengalami hal yang sama. Dengan izin dan kehendak Allah, binatang buas saja bisa berubah menjadi jinak, gunung yang kokoh yang dijadikan oleh Allah sebagai pasak untuk bumi, bisa bergetar, berguncang dengan hebat. Air laut yang terlihat tenang bisa berubah seketika menjadi ombak yang besar. Gempa yang terjadi di mana-mana tanpa dapat diprediksi sebelumnya, hatta oleh kekuatan tekhnologi tercanggih sekalipun, adalah bukti yang mengharuskan kita untuk mengimani sebuah perubahan.
Bagi kita seorang muslim, keimanan adalah sebuah bukti nyata akan perubahan itu sendiri. Iman yang didefinisikan sebagai keyakinan yang mendalam di hati, diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan lewat amal nyata, ternyata juga mengalami perubahan. Ia akan bertambah dengan ketaatan dan akan mengalami kemunduran dan pengurangan seiring dengan banyaknya kemaksiatan yang dilakukan. Maka mengutip sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tak kala beliau menggambarkan fenomena fitnah akhir zaman, beliau berkata: “Seseorang (pada saat itu) di kala pagi masih beriman namun di sore hari ia telah berubah menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan (harga) dunia yang tak pantas” (HR. Muslim No. 118 ), semakin mengantarkan kita kepada haqqul yaqin akan keniscayaan sebuah perubahan itu.
Permasalahannya, apakah kita mau berubah atau tidak? Dan kalaupun kita berubah ke mana arah perubahan itu sendiri, apakah ke hal-hal yang positif dan bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita, atau justru sebaliknya?. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Al-Ra'ad: 11)
Konteks perubahan dalam ayat ini difahami dari dua sisi, yang pertama: Perubahan tersebut mutlak berada dalam aturan takdir Ilahiyah, ia tidak dapat dipisahkan dari kehendak Yang Maha Kuasa. Kedua: Bahwa perubahan itu juga bergantung kepada ikhtiar seorang hamba, ia berani bersikap dan memutuskan untuk merubah dirinya atau tidak?. Dari sini, kita bisa memahami kekeliruan sebagian di antara kita dalam menyikapi sikap “pasrah/tawakkal” terhadap ketentuan dan takdir Allah Ta’ala.  Sejatinya, sikap pasrah dan tawakkal adalah sebuah marhalah (jenjang) di mana seorang hamba telah melakukan berbagai ikhtiar yang dibenarkan menurut syariat atau akal sehat dalam mencapai sebuah tujuan.
Risalah Islam adalah risalah pembawa  misi perubahan, dalam sisi ubudiyah Islam mengantarkan pengikutnya untuk tunduk dan taat secara kaffah kepada Allah Ta’ala, seperti ucapan panglima Rib’i Ibn ‘Amir takkala ia berkata dengan lantang di hadapan Raja “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan kepada Rab para hamba”. Tak kala hebatnya dari sisi akhlaq, Islam membawa pencerahan terhadap sikap dan perilaku jahiliyah dengan tatanan akhlaq mulia yang menempatkan seorang manusia pada derajat kemanusiaannya yang hakiki. Terbukti, bagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Sang Tauladan mampu merubah karakter para pengikutnya menjadi manusia-manusia pilihan yang setiap dari mereka memiliki keunggulan dan karakter yang membawa perubahan dalam perjalanan kehidupan manusia, mereka adalah para sahabat agen-agen perubahan yang setia untuk mengawal dan menjadi saksi setiap detik-detik perubahan hingga mencapai puncak kesempurnaannya.
Maka mengapa kita sungkan untuk berubah ke arah yang lebih baik? Bukankah kita selalu bernafsu untuk merubah status ekonomi kita ke taraf yang lebih dari yang sebelumnya?, setiap peluang kita sambar dengan cepat demi untuk memuaskan syahwat maliyah (harta) kita?. Sebagaimana Sabda nabi Shallallahu’alaihi wasallam: “Kalau seandainya seorang anak adam memiliki emas seluas satu lembah, niscaya ia menginginkan lembah yang kedua” (HR. Muslim No. 1084). Mengapa semangat ini kita tidak tularkan pada sisi-sisi lain yang jauh lebih penting dan bernilai dari pada harta?.  Mengapa kita tak mengambil ibroh dari kisah taubatnya seorang pembunuh yang telah membunuh 100 jiwa manusia, tetapi semangat dan keinginan untuk berubah mengantarkannya kepada husnul khatimah, menjadi manusia tauladan yang kisahnya dibaca oleh generasi sesudahnya  (lih. HR. al-Bukhori No. 3283 & Muslim No. 2766).
Suasana Imaniyah kita seharusnya terus terjaga untuk selalu hidup, meskipun kita sadari tak sedikit rintangan yang harus dihadapi hingga terkadang mengalami penurunan, tapi itu sebuah kewajaran. Yang tidak wajar adalah, membiarkannya terus menerus terkikis tanpa ada ikhtiar untuk melakukan upaya ishlah (perbaikan). Karena hidup harus berubah, maka tidak ada kata terlambat untuk mulai berbenah dari sekarang. Wallahu Ta’ala A’lam.

StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Nasehat seorang guru kepada muridnya, saat akan mengajarkan bab Tauhid

Muridku yang kucintai, sebelum kita memulai kajian ini, perhatikanlah apa yang ingin aku wasiatkan.

Tulis, hafalkan dan amalkanlah pelajaran ini.

Inilah pelajaran yang sangat penting. Karena untuk memperjuangkan aqidah inilah para Nabi dan Rasul diutus Allah. Perjuangan yang telah dilanjutkan oleh seluruh pejuang Islam sepanjang masa. Semoga aku dan engkau termasuk di dalamnya. Karena Aqidah inilah mereka dimusuhi, diusir dan diperangi. Karena aqidah inilah mereka akan dikumpulkan di syurga kelak. Semoga aku dan engkau pula termasuk di dalamnya.

Jangan pernah kau gadaikan aqidahmu dengan apapun. Apalagi hanya dengan sekeping dunia yang hina. Jangan pernah lupakan bahwa asasmu bergerak adalah Islam. Hanya Islam. Tidak pernah yang lain.

Dengan kajian ini aku berharap, engkau memahami siapa kawanmu. Siapa lawanmu. Siapa yang harus kau cintai. Siapa yang harus kau jauhi.

Dengan kajian ini aku berharap, engkau memahami bahwa tugas kita di dunia ini hanyalah beribadah. Kita tidak disuruh selain beribadah. Ibadah yang berarti engkau menyembah Allah dengan ta'at, tunduk, patuh, pasrah kepada ketentuan Allah. Karena itu perhatikanlah niat ibadahmu. Berharaplah hanya kepada rahmat-Nya saat engkau beribadah, seperti halnya engkau takut dan cinta hanya kepada-Nya. Tidak selain kepada Allah.

Untuk itu dengan kajian ini aku berharap, engkau tidak memiliki ambisi apapun saat hidup di dunia ini, selain ambisi untuk mendapatkan rahmat dan cinta Nya, serta terlepas dari kebencian-Nya.

Muridku yang kucintai. Sungguh kemenangan perjuangan kita tidak ditentukan oleh akal dan usaha kita. Kemenangan da'wah ini hanya ditentukan dengan turunnya cinta Allah kepada kita. Karena itu baguskanlah ibadahmu, agar Allah mencintaimu. Ikutilah sunnah Nabimu, agar engkau mudah dan benar dalam ber'ibadah.

Muridku, jika engkau memahami yang aku ucapkan, legalah dadaku. Karena itu berarti aku telah sampaikan apa yang para Rasul dan Anbiyaa sampaikan.

Semoga Allah kumpulkan kita bersama nanti di syurga. Bersama dengan Nabi kita yang Mulia. Muhammad shallaLlahu 'alayhi wa sallam. Kita akan duduk bersama dengan beliau di samping telaga al-haudh. Meminum air dari telaga tersebut. Air telaga yang lebih putih daripada susu. Lebih manis daripada madu. Siapa yang meminumnya tidak akan haus lagi selama-lamanya. Dan saat itulah kita baru beristirahat.

Amin.

(Mengenang guru-guruku yang mengajarkan aqidah. Semoga Allah melindungi mereka semua. Mengokohkan keimanan mereka. Mengumpulkan kita dalam barisan pejuang aqidah, di dunia dan akhirat. Seakan-akan merekalah yang telah mengucapkan wasiat ini kepadaku.)

Komunitas Era Muslim (KEM),26 Mei 2011.
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Do’a Sholat Istikharah

اللهم إني أستخيرك بعلمك, وأستقدرك بقدرتك, وأسألك من فضلك العظيم، فإنك تقدر ولا أقدر، وتعلم ولا أعلم، وأنت علام الغيوب، اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر – ويسمي حاجته – خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري (أو قال : عاجله وآجله) فاقدره لي ويسره لي ثم بارك لي فيه، وإن كنت تعلم أن هذا الأمر شر لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري (أو قال : عاجله وآجله)، فاصرفه عني واصرفني عنه واقدر لي الخير حيث كان ثم أرضني به.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu, dengan ilmu-Mu, dan aku memohon kuasa-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kekuasaan yang Engkau miliki. Aku memohon anugrah-Mu yang luas, Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak memilki kuasa, Engkau Maha Tahu sedang aku tidak mengetahuinya, dan Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara ghaib. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini …. (disebutkan hajatnya), baik untuk agamaku, kehidupanku dan penghujung urusanku (atau beliau berkata: dunia dan akhirat) maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah urusannya, kemudian berkahilah aku dalam menjalaninya.  Tetapi, apabila Engkau Mengetahui bahwa urusan ini berbahaya untuk agamaku, kehidupanku dan penghujung urusanku (atau beliau berkata: dunia dan akhirat) maka jauhkanlah ia dariku, dan jauhkanlah diriku darinya, dan takdirkanlah yang lebih baik untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian ridhoilah tatkala menjalaninya”. (HR. al-Bukhori No. 1109)
Manusia adalah makhluk yang lemah, tak memiliki kuasa terhadap segala urusan hatta yang menyangkut dengan dirinya sendiri. Ketika ia diperhadapkan oleh sebuah masalah yang mengharuskan untuk memilih, terkadang ia tak bisa memutuskan, ia merasa bimbang dan ragu.
Olehnya itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita do’a istikharah yaitu permohonan kepada Allah untuk memberikan petunjuk tentang urusan, masalah yang dihadapi. Do’a ini dianjurkan untuk dibaca pada saat setelah melaksanakan sholat dua rakaat (selain sholat fardhu)  sebagaimana dalam hadits Nabi Shallallahu’alaihi wasallam tatkala mengajarkan do’a ini:
“Dari Jabir Radhiyallahu’anhu beliau berkata: Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan kami istikharah (do’a minta petunjuk) dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan satu surah dalam al-Qur’an. Beliau berkata: “Apabila salah seorang diantara kalian mennghadapi masalah yang membuatnya bimbang hendaklah ia sholat dua raka’at seklain sholat fardhu kemudioan hendaklah ia berdo’a….” (HR. al-Bukhori No. 1109)
Sebagaimana do’a ini juga bisa dibaca sesaat sebelum salam dalam sholat dua raka’at  seperti yang disebutkan tadi setelah membaca do’a tasyahhud akhir.
Beberapa pelajaran penting dari do’a ini:
Pentingnya berdo’a dalam setiap keadaan.
Do’a adalah senjata seorang muslim, semakin sering ia meminta kepada Allah, maka Allah semain senang dengan permohonannya. Allah murka terhadap hamba-Nya yang melalaikan do’a kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Siapa yang tidak berdo’a kepada Allah, Maka Dia murka kepada-Nya” (HR. al-Turmudzi: 3373)
Berdo’a mengisyaratkan kebutuhan kita akan pertolongan Allah Ta’ala. Disamping itu, dengan berdo’a tentunya ia telah menjaga hubungannya dengan al-Khaliq Azza Wa Jalla.
Do’a disyariatkan dalam segala keadaan, baik tatkala kita senang, bahagia apalagi ketika kita berda dalam kesulitan dan ditimpa musibah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Ingatlah Allah dikala sukamu niscaya Dia mengingatmu dikala dukamu” (HR. Ahmad No. 2804)
Allah Maha Berkuasa terhadap urusan hamba-Nya.
Apapun yang terjadi dalam diri seorang hamba, semuanya adalah kehendak Allah, baik hal itu menyenangkan atau menyulitkan. Olehnya itu, diantara rukun Iman yang wajib diyakini dan diamalkan adalah beriman kepada takdir baik dan buruk. keimanan terhadap rukun ini akan melahirkan sikap husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah Ta’ala. Dalam hadits Qudsi disebutkan:
“Sesungguhnya Aku mengikut terhadap persangkaan hamba-Ku terhadap diri-Ku (HR. al-Bukhori No. 6907)
Begitujuga dengan perbuatan seorang hamba, ia diatur dan dibentuk sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya, Allah Ta’ala berfirman:
Artinya: “Dan Allah Yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat” (QS. al-Shaffaat: 96).
Tetapi hal ini tidak menutup pintu ikhtiar seorang manusia. Kita tetap diperintahkan berusaha dan berupaya terhadap segala hal, namun semuanya kita pasrahkan kepada Allah Ta’ala karena segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya. Rasulullah menggambarkan bagaimana sikap tawakkal yang disertai dengan ikhtiar seperti seekor burung,  beliau bersabda:
“Kalau seandainya kalian bertawakkal dengan tawakkal yang sebenarnya, niscaya Allah akan mencurahkan rezeki-Nya kepada kalian, sebagiamana seekor burung yang terbang dari sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pada petang hari ia pulang dalam keadaan kenyang” (HR. Ahmad  No. 205)
Hal ini juga tidak bermakna seseorang dilarang meminta pendapat dan saran serta pertimbangan orang lain, justru perkara ini disyariatkan dalam agama, Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka (para sahabat) dalam urusan itu. Bila kamu membulatkan tekad, bertawakkah kepada Allah” (QS. Ali Imran: 159).
Pilihan Allah yang terbaik.
Bagi seorang muslim pilihan Allah adalah yang terbaik. Apa yang ditakdirkan oleh Allah, sesuai dengan keinginan kita ataupun tidak itulah yang terbaik. Terkadang baik menurut kita tetapi dalam pandangan Allah justru akan mendatangkan kemudharatan, begitu juga sebaliknya. Allah berfirman yang artinya:
 “Dan boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu amat baik buat kalian, dan boleh jadi kalian menyenangi sesuatu padahal itu amat buruk buat kalian. Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui” (Qs. al-Baqarah: 216)
Sikap seperti inilah yang akan membimbing setiap muslim menuju puncak maqam  (kedudukan) ar-ridho kepada Allah dalam setiap musibah dan kesulitan yang ditakdirkan untuknya. Ia tidak sekedar hanya bersabar tetapi lebih dari pada itu ia seakan-akan “menikmati” musibah dan ujian itu, karena dalam keyakinannya itulah yang terbaik.
Mendahulukan kepentingan agama dalam setiap urusan kita.
Persoalan agama haruslah ditempatkan di atas segala-galanya, jangan sampai hanya sekedar mencari kebahagian dunia yang bersifat sementara justru mengorbankan kepentingan agama dan akhirat kita yang bersifat permanen. Jangan sampai kita terjebak dalam gaya hidup sebagian orang (terutama orang kafir), yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Falsafah hidupnya hanya bertendensi duniawi hanyut bersama aliran syahwatnya.
Olehnya itu, di setiap pagi dan petang kita disunnahkan untuk membaca dzikir “Radhitu billahi Rabban, wabil Islami Diinan, wabi Muhammadin Nabiyyan” (HR. Muslim No. 386)) agar menjadi pengingat bahwa hidup ini untuk Allah, menegakkan agama-Nya dalam setiap tempat dan keadaan, serta tunduk dalam ajaran Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Riyadh, awal Rabiul awal 1431 H
Abu Ziyad al-Makassary
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Maaf, (kalau begitu) saya bukan “Salafi”

Manhaj salaf adalah sebuah manhaj yang diwariskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi terbaik ummat ini. Manhaj yang kamil (paripurna dan sempurna), syamil (universal), shafi (jernih) bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasulullah dan Ijma’ ummat ini.
Manhaj salaf, bukanlah milik individu, jama’ah, yayasan dan organisasi tertentu. Ia adalah manhaj yang hidup dalam kehidupan sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Manhaj yang difahami dan ditumbuh suburkan oleh Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud –Radhiyallahu’anhum-. Manhaj yang karenanya sahabat Hamzah dan Mus’ab serta keluarga Yasir rela mengorbankan hidupnya, syahid di jalan Allah. Manhaj yang diwarisi oleh Sufyan al-Tsauri, Umar ibn Abd. Azis, Hasan al-Basri dan Annakha’i. Manhaj yang mewarnai pokok-pokok pikiran dan amalan Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Manhaj yang ditorehkan dengan tinta pena oleh Ibn Jarir, Ibn Katsir, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud. Dan masih banyak lagi, orang-orang terbaik dan terdepan di setiap lintasan waktu dan tempat.
Manhaj yang telah “pasti’ diridhai oleh Allah dan dipersaksikan oleh Nabi-Nya -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. al-Taubah: 100)
عن عمران بن حصين رضي الله عنهما يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( خير أمتي قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم(  قال عمران فلا أدري أذكر بعد قرنه قرنين أو ثلاثا) متفق عليه
Artinya: Dari Imran Ibn Hasin –Radhiyallahu’anhuma- beliau berkata: Rasulullah –Shallallahu’alaihi wasallam- bersabda: “Sebaik-baik ummatku adalah masaku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka”. Imran berkata: Aku tidak mengingat apakah aku menyebut dua atau tiga masa setelah masa beliau. (Muttafaqun’alaihi)
Manhaj yang mampu mengantarkan seorang hamba untuk memahami posisinya sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah di muka bumi ini. Hamba Allah yang telah berikrar dengan hati, lisan dan amalnya untuk senantiasa berada di jalan-Nya –sabilullah-. Berakidah tanpa penyimpangan, beribadah dan bermuamalah tanpa penyelewengan. Hidupnya lillah dan fillah (untuk Allah dan di atas jalan-Nya).
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. al-An’am: 162).
Pengikut manhaj salaf (baca: salafi), adalah seseorang yang berusaha untuk memurnikan ubudiyahnya hanya kepada Allah, dengan penuh keikhlasan dan ketaatan (ittiba’). Memahami hakikat tauhid, menjaga dirinya dari kesyirikan dan penyimpangan dari ajaran tauhid yang luhur. Ia sangat tahu bagaimana melahirkan nilai-nilai tauhid dalam kesehariannya. Ia tidak pernah ragu dalam ikhtiarnya, bahwa semuanya telah ditentukan oleh Allah. Apa yang ditakdirkan untuknya, sedikitpun tak akan pernah meleset. Dan apa yang tidak ditakdirkan, tidak akan sampai kepada dirinya walau sejuta usaha yang ia lakukan. Keridhoaanya karena Allah, kecintaannya karena Allah, dan kalaupun ia harus membenci, maka kebenciannya pun karena Allah.
Pengikut manhaj salaf, adalah seseorang yang berusaha mewarnai kehidupannya dengan adab dan akhlak yang mulia. Ia tidak hidup dalam dunianya sendiri (ekslusif), tidak hanya ramah dalam komunitasnya sendiri. Ia sangat tahu, bahwa manhaj ini harus ditularkan dan dicairkan dalam setiap ruang dan sudut kehidupan. Kepada yang tua, ia menjadi sosok yang hormat dan berbakti. Kepada si kecil, ia menjadi panutan yang diteladani. Kepada masyarakat, ia menjadi anggota yang berdedikasi tinggi, tanpa pembatas, mengayomi dan memahami kehidupan sekitar. Ia merindukan aturan bermasyarakat dan sistem pemerintahan  yang bersendikan ajaran Islam. Ia berdakwah dan berjuang untuk tegaknya “kalimatullah” di bumi Allah.
Lantas mengapa saat ini, sebagian orang-orang di sekitar kita merasa “alergi”, “risih” bahkan “takut” (baca: phobia) dengan orang-orang yang “mendeklarasikan” dirinya sebagai seorang “salafi”?. Apa yang salah? Manhajnyakah yang salah atau personnya?. Mengapa setiap disebut kata “salafi” yang tergambar adalah sosok yang mudah menyalahkan, dan membid’ahkan orang yang berselisih dengannya?. Yang hanya membatasi diri dengan kajian ustadz si fulan dan si fulan. Hanya membaca kitab dan fatwa ulama ahlussunnah tertentu. Jauh dari sikap tawadhu dan penghargaan terhadap orang lain. Alih-alih menjadi orang yang berada di tengah dengan sikap washatiyahnya, justru ia terpinggirkan dan terisolasi, hanya pada komunitas dan jama’ah tertentu. Jalan-jalan, tempat keramaian, sarana pendidikan, sarana kesehatan,  sarana bisnis, sarana media dan informasi masih jauh dari warna yang pernah eksis dan dirindukan oleh para guru dan panutan kaum salaf.
Kalau seseorang zuhud yang gemar mentazkiyah dirinya dari penyakit hati dan sifat tercela, berburuk sangka kepada sesama, dikatakan sebagai “sufi”. Maka biarlah, dalam hal ini saya menjadi sufi dan bukan salafi.
Kalau seseorang yang gemar berdakwah fardiyah yang selalu “risau’’ dengan keadaan ummat yang jauh dari masjid dan amalan-amalan sunnah lainnya, mengajak pelaku maksiat untuk tobat dan berubah kea rah yang “sedikit” lebih baik dikatakan sebagai “tablighi”, maka biarlah saya dicap sebagai tablighi dan bukan seorang salafi.
Kalau seseorang yang rindu akan tegaknya syariat Islam di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, mengembalikan sistem bernegara ke pangkuan khilafah  dituduh sebagai seorang “tahriri” maka biarlah saya berada dalam posisi seorang tahriri dan bukan seorang salafi.
Kalau seseorang yang kerap berusaha menasehati pemerintah, mengungkap dan menjelaskan penyimpangan pemerintah berkuasa, memilih jalan menerima tawaran masuk ke dalam shaf  pemberi kebijakan untuk bermar ma’ruf nahi mungkar dikatakan sebagai seorang “ikhwani”. Maka biarlah saya menjadi seorang ikhwani dan bukan salafi.
Kalau seseorang yang berusaha menawarkan manhaj salaf dengan cara yang lebih modern, lebih humanis, lebih membumi, lebih menyentuh kepada hajat hidup orang banyak, dituduh sebagai seorang “sururi” . Maka biarlah saya menjadi seorang sururi murni dan bukan salafi.
Maaf, (kalau begitu) saya bukan “salafi”, karena saya yakin bahwa soko guru kaum salaf tidak pernah mengajarkan bahwa manhaj ini adalah kavling dan milik seseorang, jama’ah dan gerakan tertentu. والله أعلم بالصواب

StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Senin, 27 Februari 2012

Anjing Untuk Penghina Nabi

عن جمال الدين إبراهيم بن محمد الطيبي أن بعض أمراء المغل تنصر فحضر عنده جماعة من كبار النصارى والمغل فجعل واحد منهم ينتقص النبي صلى الله عليه وسلم وهناك كلب صيد مربوط

Jamaluddin Ibrahim bin Muhammad ath Thibi bercerita bahwa ada seorang penguasa Mongol yang semula muslim berubah menjadi nasrani. Suatu hari sejumlah pembesar Nasrani dan Mongol kumpul di majelisnya. Saat itu ada salah satu dari mereka yang menghina Nabi. Di ruangan itu terdapat anjing pemburu yang terikat.

فلما أكثر من ذلك وثب عليه الكلب فخمشه فخلصوه منه

Tatkala orang tersebut berulang kali menghina Nabi, tiba tiba anjing tersebut menerkamnya dan berhasil mencakar cakar wajahnya sebelum akhirnya orang orang yang hadir bisa menyelamatkannya dari cakaran anjing.
وقال بعض من حضر هذا بكلامك في محمد صلى الله عليه وسلم
Salah seorang hadiri berkomentar, “Tindakan anjing tersebut gara gara hinaanmu terhadap Muhammad”.

فقال كلا بل هذا الكلب عزيز النفس رآني أشير بيدي فظن أني أريد أن أضربه

“Bukan”, tukas orang tersebut dengan tegas, “Namun anjing itu terlalu Ge eR. Dia lihat aku berisyarat dengan tanganku ke arahnya lantas dia mengira bahwa aku ingin memukulnya”, lanjut orang itu.

ثم عاد إلى ما كان فيه فأطال فوثب الكلب مرة أخرى فقبض على زردمته فقلعها فمات من حينه فأسلم بسبب ذلك نحو أربعين ألفا من المغل

Kemudian dia kembali menghina Nabi bahkan berpanjang kata menghina Nabi maka tiba tiba anjing tersebot meloncat dan menggigit kerongkongannya lalu menariknya hingga putus. Matilah orang tersebut seketika. Kejadian ini menjadi sebab ada kurang lebih 40 ribu orang Mongol masuk Islam [Durar Kaminah karya Ibnu Hajar al Asqalani as Syafii 1/386, Syamilah].
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Selasa, 14 Februari 2012

Aqu dapet coklat warna pink!

"TIDAK DIKATAKAN BERIMAN, BILA SESEORANG BELUM MENCINTAI SAUDARANYA SEPERTI IA MENCINTAI DIRINYA SENDIRI"

Kamu pernah nggak dikasih coklat yang warnanya pink pada tanggal 14 februari? Atau malah kamu yang ngasih? Pernah ya suatu hari tiba-tiba aku dikasih coklat pada tanggal 14 februari, saat itu aku nggak ngerti apa maksudnya. Kata temenku hari valentine. Trus aku baru tahu kalau kebiasaan seperti itu berasal dari orang-orang di luar islam, tapi temanku bilang "sayang islam nggak punya hari kasih sayang". Aku membela, kata siapa islam nggak punya hari kasih sayang, malah islam itu agama kasih sayang, rahmatan lil'alamin. Buktinya tiap kita mau melakukan apapun kita harus mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Bahkan rasulullah sendiri mengancam tidak disebut beriman sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Malah kasihan mereka yang bervalentine, mereka berkasih sayang hanya sekali dalam setahun

Di kalangan remaja, hari valentine seolah-olah menjadi hari raya mereka. Kalau mereka ditanya apa itu valentine, pasti yang langsung terbesit dalam memori mereka adalah 14 februari ditambah aksesoris serba pink atau ungu, trus tukeran coklat sama bunga, dan mereka happy-happy aja ngerayainnya. Padahal kalau kita tahu asalnya dari mana, tentu kita bakal mikir-mikir lagi untuk beliin coklat buat teman
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Tahukah kawan dari mana dan siapa valentine itu?

Kaisar claudius II (roma) pada masa pemerintahanya mengeluarkan fatwa berisi larangan menikah demi menciptakan prajurit yang tangguh. Dengan teori "nyeleneh" dia mengatakan bahwa seorang pemuda yang belum berkeluarga akan lebih baik performanya Ketika Berperang. Nah, muncullah seorang pahlawan yang bernama santo valentino. Ia seorang pendeta katholik yang secara diam-diam menikahkan setiap pasangan muda yang berniat menikah. Wal hasil setiap bayi yang lahir dari pasangan ilegal ini dikubur hidup-hidup demi menyembunyikan usahanya ini. Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya lapar juga, eh jatuh juga maksudnya. Kaisar mengetahui perbuatan si santo valentino ini dan menjatuhi hukuman pancung kepadanya. 200 tahun kemudian paus gelasius menetapkan tanggal 14 februari sebagai hari valentine untuk menghargai perjuangan santo valentino ini.
Sebenarnya masih banyak lagi cerita yang menghubung-hubungkan dengan hari valentine, diantaranya tanggal 14 februari itu adalah pesta yang diadakan oleh dewa, pada hari itu semua orang dibebaskan untuk memilih pasangannya sendiri. Iih! Kayak binatang aja!. Sebenarnya mereka sendiri tidak pasti tanggal berapa hari valentine itu, ada yang tanggal 22 januari,3 maret, tergantung keinginan mereka. Yang pasti buat kita orang islam setiap hari kita tebar kasih sayang, soz agama kita tuh rahmatan lil alamin coy...!.

Nah, buat generasi islam, pantas nggak kalau kita ikut ngerayain hari valentine ini? Toh kita punya hari kasih sayang seumur hidup. Seorang ustadz pernah menulis dalam lembar buletinya ,"hanya ada 2 jenis manusia yang merayakan valentine; kapitalis yang keji, dan orang bodoh yang tertindas".
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Hukum membaca injil dan taurat


Seorang bertanya kepada syeikh bin baz rahimahulah : apakah boleh seorang muslim membaca kitab injil sekedar ingin tahu isinya? Dan apakah beriman kepada kitab-kitab samawi tersebut berarti meyakini bahwa kitab tersebut datang dari allah atau meyakini apa yang ada di dalamnya?
Jawab:
Setiap muslim wajib beriman bahwasanya kitab samawi tersebut datang dari allah, seperti ; injil, taurat dan zabur, beriman bahwasanya allah telah menurunkan kitab-kitabnya kepada para nabi dan menurunkan kepada mereka suhuf-suhuf(lembaran) yang didalamnya ada perintah dan larangan, peringatan dan berita tentang kejadian dimasa lalu,surga dan neraka,dll. AKAN TETAPI TIDAK BOLEH DI BACA DAN DI AMALKAN karena itu merupakan suatu hal yang membahayakan akidah sehingga boleh jadi membenarkan yang bathil atau mendustakan kebenaran sebab di dalamnya telah dirubah dan diganti oleh orang –orang yahudi dan nasrani .
Dan sungguh allah telah mencukupkan kita dengan kitab yang sangat agung yaitu alqur’anulkarim.
Dan telah diriwayatkan dari rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau pernah melihat di tangan umar suatu lembaran dari taurat sehingga beliau marah dan bersabda :”apakah engkau ragu wahai umar ? sungguh aku telah datang dengan sesuatu yang telah jelas , seandainya musa masih hidup tidak ada jalan keluar baginya kecuali mengikuti syari’at yang aku bawa )alaihi solatu wa ssalam .
Jadi kami menasehati kaum muslimin untuk tidak berpegang kepadanya (taurat,zabur dan injil) dan jangan membacanya, bahkan jika kalian mendapatkan sesuatu darinya maka kuburkan atau bakarlah karena sesungguhnya al-qur’an telah datang menyempurnakannya , dan adapun perubahan-perubahan dan penyimpangan yang tejadi pada kitab-kitab tersebut merupakan sesuatu yang mungkar dan bathil maka wajib setiap muslim untuk berhati-hati dan menjauhinya .
Adapun bagi seorang alim yang telah memahami agama ini dengan benar terkadang dibolehkan baginya untuk membaca dengan tujuan untuk membantah syubhat-syubhat yang datang dari yahudi dan nashara . sebagaimana nabi sallallahu alaihi wa sallam pernah menyuruh untuk mendatangkan taurat ketika orang yahudi mengingkari hukum rajam dan setelah diperiksa dan diteliti ternyata didapatkan didalamnya tentang hukum rajam sehingga merekapun mengakuinya .
Maksudnya adalah bahwa para ulama yang memahami syari’at ini terkadang membutuhkan untuk mempelajarinya dengan tujuan kemaslahatan islam seperti membantah musuh-musuh allah , menjelaskan keutamaan al-qur’an yang berisi kebenaran dan petunjuk . dan adapun  masyarakat awwam atau semisalnya maka tidak diperbolehkan baginya untuk hal tersebut.
Bahkan jika di dapatkan di antara mereka kitab-kitab tersebut di wajibkan untuk membakar atau menguburkanya di tempat yang bersih sehingga tidak tersesat dengannya.(tasdiq)
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Cinta, Penghormatan & Bakti Orang-orang Sholih Kepada Orang Tua


Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” (Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “ Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk karena ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Diambil dari Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (Diambil dari al-Birr wasilah, karya Ibnu Jauzi)
Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’)

Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)

Hafshah binti Sirin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Diambil dari Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi).

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, “ Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal? Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’, karya adz-Dzahabi)
Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” (Dari kitab Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)

Kisah Uwais al-Qorni
Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir”, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”, “Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu.” Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehingga tidak dikenal itu lebih ku sukai.” (HR. Muslim)
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Tips sederhana dalam menghafalal-qur'an

Bismillah Ar-Rahmaan Ar-Rahiym.
Assalaamu 'alaykum warahmatullaahi wabarakaatuhu.

Alhamdulillah, Washshalatu wassalaamu 'alaa Nabiyyinaa Muhammadin wa 'alaa aalihi wa ash-haabihi ajma'iyn. Ammaa ba'du.

Ikhwan dan Akhwat rahiymakumullahu jamiy'an, banyak hadits yang menyebutkan tentang keutamaan menghapal Al-Qur'an, dan sepantasnya di hati setiap orang yang beriman memiliki keinginan yang kuat untuk menghafalkannya, dan senantiasa memiliki kecemburuan terhadap para penghafalnya, namun kecemburuan yang kami maksud bukanlah kecemburuan negatif yang menghendaki hilangnya suatu nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah 'Azza wa Jalla kepada saudaranya dan kemudian nikmat tersebut beralih kepadanya, bukan itu Ikhwan dan Akhwat sekalian, akan tetapi yang kami maksud di sini adalah kecemburuan positif di mana kita pun menginginkan nikmat yang sama tanpa ada keinginan agar nikmat tersebut hilang dari saudara kita, sehingga kitapun saling berpacu bahkan saling tolong menolong dalam menggapai kebaikan tersebut.


Ikhwan dan Akhwat rahiymakumullahu jamiy'an, sebelum kami masuk ke pembahasan metode maka terlebih dahulu kami ingin melampirkan beberapa dalil tentang keutamaan menghafal Al-Qur'an, dengan harapan ini semua akan lebih memacu kita semua untuk berusaha dan terus berusaha menghafalkan Al-Qur'an tersebut tanpa ada kata menyerah hingga KETETAPAN ALLAH datang menghampiri kita semua, Insyaa Allah, Allahu Akbar...!!!

1. Hati seorang individu Muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah 'Azza wa Jalla.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu:
"Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh". (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dari Ibnu Abbas (2914), ia berkata hadits ini hasan sahih).

2. Memperoleh penghormatan dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam.
Dari Abi Hurairah Radiyallahu 'anhu. ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam mengecek kemampuan membaca dan hafalan Al Qur'an mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hafalan Al-Qur'an-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam :"Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hafal, hai Fulan?" ia menjawab: aku telah menghafal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah. Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam kembali bertanya: "Apakah engkau hafal surah Al-Baqarah?" Ia menjawab: Betul. Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:"Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!". Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafal surah Al-Baqarah semata karena takut aku tidak dapat menjalankan isinya. Mendengar komentar itu, Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: "Pelajarilah Al Qur'an dan bacalah, karena perumpamaan orang mempelajari Al Quran  dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian dia tidur -dan dalam dirinya terdapat hafalan Al Qur'an- adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik" (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2879), dan lafazh itu darinya. Serta oleh Ibnu Majah secara ringkas (217), Ibnu Khuzaimah (1509), Ibnu Hibban dalam sahihnya (Al Ihsaam 2126), dan dalam sanadnya ada 'Atha, Maula, Abi Ahmad, yang tidak dinilai terpecaya kecuali Ibnu Hibban).

3. Penghafal Al Qur'an akan memakai mahkota kehormatan.
Dari Abi Hurairah Radiyallahu 'anhu. bahwa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: :"Penghafal Al Qur'an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Qur'an akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Qur'an kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al Qur'an memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan" (Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2916), Ibnu Khuzaimah, al hakim, ia meninalinya hadits sahih, serta disetujui oleh Adz Dzahabi(1/533).)

4. Dapat membahagiakan kedua orang tua, sebab orang tua yang memiliki anak penghapal Al Qur'an memperoleh pahala khusus.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari  Buraidah Al Aslami Radiyallahu 'anhu, ia berkata bahawasanya ia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: "Pada hari kiamat nanti, Al Qur'an akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al Qur'an akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: "Apakah anda mengenalku?". Penghafal tadi menjawab; "saya tidak mengenal kamu." Al Qur'an berkata; "saya adalah kawanmu, Al Qur'an yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan. Maka penghafal Al Qur'an tadi diberi kekuasaan di tangan kanannya dan diberi kekekalan ditangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat di bayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: "kenapa kami di beri dengan pakaian begini?". Kemudian di jawab, "kerana anakmu hafal Al Qur'an. "Kemudian kepada penghafal Al Quran tadi di perintahkan, "bacalah dan naiklah ketingkat-tingkat syurga dan kamar-kamarnya." Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil). (diriwayatkan oleh Ahmd dalam Musnadnya (21872) dan Ad Darimi dalam Sunannya (3257).)

Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: "Siapa yang membaca Al Qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikanlah mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: "Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur'an" (Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilainya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi)

5. Akan menempati tingkatan yang tinggi di Surga Allah 'Azza wa Jalla.
Sabda rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari  Sisyah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, bahawasanya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda; jumlah tingkatan-tingkatan surga sama dengan jumlah ayat-ayat Al Qur'an. Maka tingkatan surga yang di masuki oleh penghafal Al Qur'an adalah tingkatan yang paling atas, dimana tidak ada tingkatan lagi sesudah itu.

6. Penghafal Al Qur'an adalah keluarga Allah 'Azza wa Jalla.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari Anas Radhiyallahu 'anhu Ia berkata bahawa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia." Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bertanya: "Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: "Ia itu ahli Qur'an (orang yang membaca atau menghafal Al- Qur'an dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.

7. Menjadi orang yang arif di surga Allah 'Azza wa Jalla.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam "Dari  Anas Radhiyallahu 'anhu Bahawasanya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda; "Para pembaca Al Qur'an itu adalah orang-orang yang arif di antara penghuni surga,"

8. Memperoleh penghormatan dari manusia.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam  "Dari  Abu Musa Al Asya'ari Radhiyallahu 'anhu Ia berkata bahawasanya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: "Diantara perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati Orang Islam yang sudah tua, menghormati orang yang menghafal Al-Qur'an yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan Al-Qur'an tidak di amalkan, serta menghormati kepada penguasa yang adil."

9. Hatinya terbebas dari siksa Allah 'Azza wa Jalla.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam
" Dari Abdullah Bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu Dari  Nabi Shallallahu 'alayhi wasallam Baginda bersabda: " bacalah Al Qur'an kerana Allah tidak akan menyiksa hati orang yang hafal Al Qur'an. Sesungguhanya Al Qur'an ini adalah hidangan Allah, siapa yang memasukkunya ia akan aman. Dan barangsiapa yang mencintai Al Qur'an maka hendaklah ia bergembira."

10. Mereka (bagi kaum pria) lebih berhak menjadi Imam dalam shalat.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam :
"Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu Dari Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam beliau bersabda; "yang menjadi imam dalam solat suatu kaum hendaknya yang paling pandai membaca (hafalan) Al Qur'an."

11. Disayangi oleh Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari  Jabir Bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu Bahawa Nabi Shallallahu 'alayhi wasallam menyatukan dua orang dari  orang-orang yang gugur dalam perang uhud dalam satu liang lahad. Kemudian nabi Shallallahu 'alayhi wasallam bertanya, "dari mereka berdua siapakah paling banyak hafal Al Qur'an?" apabila ada orang yang dapat menunjukkan kepada salah satunya, maka Nabi Shallallahu 'alayhi wasallam memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad."

12. Dapat memberi syafa'at kepada keluarga.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari  Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu: "Barangsiapamembaca Al Qur'an dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga dan memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah di tetapkan untuk masuk neraka."

13. Merupakan bekal-bekal yang terbaik.
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam:
"Dari  Jabir bin Nufair, katanya Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam bersabda; "Sesungguhnya kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling baik daripada sesuatu yang berasal dari-Nya yaitu Al Qur'an.

Ikhwan dan Akhwat rahiymakumullahu jamiy'an, semoga setelah menyimak beberapa keutamaan menghafal Al Qur'an tadi antum sekalian sudah memberanikan diri untuk Bersumpah bagi diri kita masing-masing bahwa DEMI ALLAH selama kita masih diberi kesempatan dan kesehatan oleh Allah 'Azza wa Jalla, maka selama itu pula kita akan terus berupaya untuk menghafalkan kitab termulia tersebut yakni Al Qur'an meski sedikit demi sedikit.

Baiklah Ikhwan dan Akhwat rahiymakumullah, menghafal Al Qur'an bukanlah perkara yang mudah, dibutuhkan keinginan yang kuat, keistiqamahan, kesabaran, dan disertai dengan UPAYA NYATA yakni mau memulai dan terus berusaha tanpa kenal lelah apalagi kata "MENYERAH", namun menghafal Al Qur'an juga bukanlah amalan yang mustahil untuk dikerjakan OLEH SIAPA PUN, sampai kepada kita yang memiliki seabrek kesibukan lainnya, namun perlu kami ingatkan sekali lagi, bahwa harus SABAR dan ISTIQAMAH...!

Bagaimana metode menghafal bagi orang-orang yang memiliki kesibukan...?

Ikhwan dan Akhwat rahiymakumullahu jamiy'an, antum jangan berfikiran bahwa dengan metode ini antum akan menghafal Al Qur'an dalam waktu setahun atau dua tahun, tidak Ikhwan dan Akhwat sekalian, bahkan metode ini membutuhkan waktu 15 hingga 30 tahun, TERLALU LAMA...? terserah penilaian antum bagai mana, namun setidaknya INI MASIH LEBIH BAIK DARI PADA TIDAK HAPAL SAMA SEKALI, mungkin antum khawatir akan diwafatkan terlebih dahulu sebelum menyelesaikan hafalan...? Maka kami sampaikan bahwa SETIDAKNYA KITA BISA BERBAHAGIA KARENA MENINGGAL DALAM KONDISI MEMBAWA NIAT YANG MULIA YANG DIBENARKAN OLEH AMALAN YANG TENGAH KITA LAKUKAN, dan juga antum jangan berfikiran bahwa ini adalah pekerjaan yang mudah untuk dikerjakan tanpa kesabaran, keistiqamahan, dan tindakan nyata, sebab tanpa semua itu berarti antum hanyalah BERANGAN-ANGAN...!

Syarat yang WAJIB untuk antum penuhi sebelum melaksanakan metode ini adalah:

1. Niat karena mengharap Keridhaan Allah.

2. Mampu membaca Al Qur'an dengan tartil (tajwid yang benar), atau setidaknya antum terus berusaha untuk memperbaiki kualitas bacaan Al Qur'an antum.

Berikut adalah metode yang Alhamdulillah telah kami buktikan sendiri dalam kurun waktu yang belum genap setahun ini:

1. Mulailah menghafal dari Juz 30 atau juz 29 atau juz 28, setelah itu silahkan mulai dari Juz 1 dan seterusnya.

2. Gunakan Mushaf Al Qur'an Huffadzh, yakni Al Qur'an cetakan standard international, di mana setiap juz-nya rata-rata terdiri dari +/- 10 lembar (20 halaman; di mana setiap halaman maksimal terdiri dari 15 baris), usahakan istiqamah dengan satu mushaf, tapi bukanlah alasan untuk tidak menghafal ketika suatu ketika antum lupa membawa mushaf antum, tetaplah menghafal meski dengan mushaf yang berbeda, ini hanya untuk lebih memudahkan antum dengan sebuah kebiasaan.

3. Persiapkan diri dengan mengatur 5 waktu khusus untuk menghafal dalam sehari, dan kami sangat menyarankan bahwa waktu tersebut adalah setiap antum selesai menunaikan shalat fardhu.

4. Setiap waktu tersebut, hafalkanlah 1 baris, jika hal tersebut masih terlalu berat bagi antum maka cukup hafal setengah baris saja setiap selesai shalat fadhu, dan jika setengah baris ini masih memberatkan bagi antum, maka 'afwan karena kami hanya mampu menyarankan kepada antum PERBANYAKLAH ISTIGHFAR...!!! (Ikhwan dan Akhwan sekalian, dengan menghafal 1 baris setiap selesai shalat fardhu, berarti insyaa Allah dengan kesabaran dengan keistiqamahan, antum akan Menghafal seluruh Al Qur'an dalam waktu 15 tahun, dan jika antum hanya sangguf menghafal setengah baris setiap waktu yang telah ditentukan tersebut, maka insyaa Allah dengan kesabaran dan keistiqamahan, maka antum akan menghafal seluruh Al Qur'an dalam waktu 30 tahun, sekedar mengingatkan bahwa setidaknya INI MASIH LEBIH BAIK DARI PADA TIDAK HAPAL SAMA SEKALI).

5. Jika memungkinkan, cobalah antum mencari sahabat atau teman yang bisa ikut menghafal bersama antum, sebab hal tersebut akan lebih menguatkan bagi antum, boleh dari saudara, teman, istri, atau suami, namun jika tak ada satu pun maka sendiri juga insyaa Allah tidak mengapa, ANTUM PASTI BISA...!!!

6. Jika antum memiliki media yang memungkinkan untuk membantu antum seperti HP, MP3/MP4 Player, atau apa saja yang dilengkapi dengan fasilitas recorder & playback maka gunakanlah media tersebut, rekam suara (bacaan) antum pada media tersebut agar antum bisa mendengarnya di setiap kesempatan sebelum tiba waktu selanjutnya, kegiatan ini sebagai media muraja'ah dengan pendengaran sekaligus melatih telinga kita untuk terbiasa tidak mendengar hal-hal yang sia-sia seperti lagu dan musik.

7. Banyak-banyak berdo'a kepada Allah 'Azza wa Jalla agar dimudahkan, diistiqamahkan untuk menghafal Al Qur'an, juga agar diberi usia, kesehatan, dan kesempatan untuk menyelesaikan cita-cita mulia ini.

8. Gunakan kesempatan Qiyam Al Layl sebagai waktu tambahan untuk memuraja'ah hafalan-hafalan antum.

MANAJEMEN KEGIATAN MENGHAFAL:

1. Target hafalan adalah 1 halaman terhafal dengan lancar setiap pekannya (bagi yang sanggup untuk menghafal 1 baris setiap waktunya), atau setengah halaman terhafal dengan lancar setiap pekannya (bagi yang menghafal setengah baris setiap waktunya), cara mencapainya:
- Ba'da Subuh mulai hafal 1 Baris / setengah baris (pilih salah satunya sesuai kesanggupan, kemudian istiqamah-lah!!!).
- Ba'da Dzhuhur tambah hafal 1 Baris / setengah baris.
- Ba'da Ashar tambah hafalan 1 Baris / setengah baris.
- Ba'da Maghrib tambah hafalan 1 Baris / setengah baris.
- Ba'da 'Isyaa' tidak perlu tambah hafalan, khususkan waktu ini untuk memuraja'ah (mengulang-ulang) semua hafalan yang telah di hafal hari itu, jangan lupa di antara waktu shalat fardu, manfaatkanlah media yang antum miliki untuk memuraja'ah hafalan antum melalui pendengaran.
- Lakukan hal di atas selama 4 hari berturut-turut (hingga antum menyelesaikan target antum dalam sepekan yakni 1 atau setengah halaman).

2. Dalam sepekan terdiri dari 7 hari, namun dengan metode ini insyaa Allah maksimal dalam 4 hari antum telah menyelesaikan target hafalan antum untuk sepekan, berarti masih tersisa 3 hari dalam sepekan tersebut, GUNAKANLAH 3 hari tersebut untuk memuraja'ah hafalan antum pada pekan tersebut, INGAT...!!! jangan terburu-buru untuk pindah ke hafalan selanjutnya, tetaplah istiqamah dengan target antum yakni 1 atau setengah halaman setiap pekannya.

3. Dalam sebulan, terdiri dari 4 pekan, berarti dengan metode ini antum akan menghafal 2 lembar setiap bulannya (bagi yang menghafal 1 baris setiap waktunya), atau 1 lembar setiap bulannya (bagi yang menghafal setengah baris setiap waktunya). Dari sini bisa kita ketahui bahwa dengan metode ini kita bisa menghafal 2 juz dalam waktu 10 bulan bagi yang menghafal 1 baris setiap waktunya, atau 1 Juz dalam waktu 10 bulan bagi yang menghafal setengah baris setiap waktunya, sebab 1 Juz = 10 lembar Al Qur'an, Ikhwan dan Akhwat rahiymakumullah, ini berarti dalam setahun tersebut ada waktu 2 bulan tersisa yang lagi-lagi bisa kita manfaatkan untuk KHUSUS memperlancar hafalan kita tersebut. Sekali lagi kami ingatkan, bahwa JANGAN menambah hafalan antum di waktu-waktu yang telah kita khususkan untuk muraja'ah.

KESIMPULAN DARI PENERAPAN METODE INI:

1. Jika antum menghafal 1 baris setiap waktunya, berarti antum akan menjadi seorang penghafal Al Qur'an dalam waktu 15 tahun, dengan kata lain "TIADA TAHUN KECUALI HAFALAN ANTUM BERTAMBAH SEBANYAK 2 JUZ".

2. Jika antum menghafal setengah baris setiap waktunya, berarti antum akan menjadi seorang penghafal Al Qur'an dalam waktu 30 tahun, dengan kata lain "TIADA TAHUN KECUALI HAFALAN ANTUM BERTAMBAH SEBANYAK 1 JUZ".

KELAMAAN IKHWAN DAN AKHWAT SEKALIAN...???

SEKALI LAGI... INGATLAH PESAN KAMI INI:
 
SETIDAKNYA INI MASIH LEBIH BAIK DARI PADA TIDAK HAFAL SAMA SEKALI...!!!

Jika suatu ketika antum futhur (lesuh semangat) dalam menggapai cita-cita mulia ini, maka ingatlah (bacalah) kembali hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam tentang keutamaan dan kemualiaan para penghafal Al Qur'an, dan ingatlah kedua ibu bapak antum yang pastinya ingin untuk dipakaikan Pakaian Kemuliaan beserta Mahkota kemuliaan di Akhirat kelak.

Semoga Allah 'Azza wa Jalla senantiasa melindungi kita dari kefuhuran, dan menjadikan kita semua sebagai hamba-hambanya yang hafal Al Qur'an, mengamalkan, dan mendakwahkannya, serta mematikan kita semua dalam kondisi dada yang menyimpan Al Qur'an beserta kemuliaannya. Aamiyn Yaa Rabbal 'Aalamiyn. 
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook