Ada 1.000.000 pembaca Rss Feed sudah bergabung, Sudahkah anda?

Berbagi Kebaikan Untuk Kemaslahatan Ummat

Sabtu, 12 Mei 2012

Do’a Sholat Istikharah

اللهم إني أستخيرك بعلمك, وأستقدرك بقدرتك, وأسألك من فضلك العظيم، فإنك تقدر ولا أقدر، وتعلم ولا أعلم، وأنت علام الغيوب، اللهم إن كنت تعلم أن هذا الأمر – ويسمي حاجته – خير لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري (أو قال : عاجله وآجله) فاقدره لي ويسره لي ثم بارك لي فيه، وإن كنت تعلم أن هذا الأمر شر لي في ديني ومعاشي وعاقبة أمري (أو قال : عاجله وآجله)، فاصرفه عني واصرفني عنه واقدر لي الخير حيث كان ثم أرضني به.
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu, dengan ilmu-Mu, dan aku memohon kuasa-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kekuasaan yang Engkau miliki. Aku memohon anugrah-Mu yang luas, Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak memilki kuasa, Engkau Maha Tahu sedang aku tidak mengetahuinya, dan Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara ghaib. Ya Allah apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini …. (disebutkan hajatnya), baik untuk agamaku, kehidupanku dan penghujung urusanku (atau beliau berkata: dunia dan akhirat) maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah urusannya, kemudian berkahilah aku dalam menjalaninya.  Tetapi, apabila Engkau Mengetahui bahwa urusan ini berbahaya untuk agamaku, kehidupanku dan penghujung urusanku (atau beliau berkata: dunia dan akhirat) maka jauhkanlah ia dariku, dan jauhkanlah diriku darinya, dan takdirkanlah yang lebih baik untukku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian ridhoilah tatkala menjalaninya”. (HR. al-Bukhori No. 1109)
Manusia adalah makhluk yang lemah, tak memiliki kuasa terhadap segala urusan hatta yang menyangkut dengan dirinya sendiri. Ketika ia diperhadapkan oleh sebuah masalah yang mengharuskan untuk memilih, terkadang ia tak bisa memutuskan, ia merasa bimbang dan ragu.
Olehnya itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kita do’a istikharah yaitu permohonan kepada Allah untuk memberikan petunjuk tentang urusan, masalah yang dihadapi. Do’a ini dianjurkan untuk dibaca pada saat setelah melaksanakan sholat dua rakaat (selain sholat fardhu)  sebagaimana dalam hadits Nabi Shallallahu’alaihi wasallam tatkala mengajarkan do’a ini:
“Dari Jabir Radhiyallahu’anhu beliau berkata: Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan kami istikharah (do’a minta petunjuk) dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan satu surah dalam al-Qur’an. Beliau berkata: “Apabila salah seorang diantara kalian mennghadapi masalah yang membuatnya bimbang hendaklah ia sholat dua raka’at seklain sholat fardhu kemudioan hendaklah ia berdo’a….” (HR. al-Bukhori No. 1109)
Sebagaimana do’a ini juga bisa dibaca sesaat sebelum salam dalam sholat dua raka’at  seperti yang disebutkan tadi setelah membaca do’a tasyahhud akhir.
Beberapa pelajaran penting dari do’a ini:
Pentingnya berdo’a dalam setiap keadaan.
Do’a adalah senjata seorang muslim, semakin sering ia meminta kepada Allah, maka Allah semain senang dengan permohonannya. Allah murka terhadap hamba-Nya yang melalaikan do’a kepada-Nya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Siapa yang tidak berdo’a kepada Allah, Maka Dia murka kepada-Nya” (HR. al-Turmudzi: 3373)
Berdo’a mengisyaratkan kebutuhan kita akan pertolongan Allah Ta’ala. Disamping itu, dengan berdo’a tentunya ia telah menjaga hubungannya dengan al-Khaliq Azza Wa Jalla.
Do’a disyariatkan dalam segala keadaan, baik tatkala kita senang, bahagia apalagi ketika kita berda dalam kesulitan dan ditimpa musibah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Ingatlah Allah dikala sukamu niscaya Dia mengingatmu dikala dukamu” (HR. Ahmad No. 2804)
Allah Maha Berkuasa terhadap urusan hamba-Nya.
Apapun yang terjadi dalam diri seorang hamba, semuanya adalah kehendak Allah, baik hal itu menyenangkan atau menyulitkan. Olehnya itu, diantara rukun Iman yang wajib diyakini dan diamalkan adalah beriman kepada takdir baik dan buruk. keimanan terhadap rukun ini akan melahirkan sikap husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah Ta’ala. Dalam hadits Qudsi disebutkan:
“Sesungguhnya Aku mengikut terhadap persangkaan hamba-Ku terhadap diri-Ku (HR. al-Bukhori No. 6907)
Begitujuga dengan perbuatan seorang hamba, ia diatur dan dibentuk sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya, Allah Ta’ala berfirman:
Artinya: “Dan Allah Yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat” (QS. al-Shaffaat: 96).
Tetapi hal ini tidak menutup pintu ikhtiar seorang manusia. Kita tetap diperintahkan berusaha dan berupaya terhadap segala hal, namun semuanya kita pasrahkan kepada Allah Ta’ala karena segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya. Rasulullah menggambarkan bagaimana sikap tawakkal yang disertai dengan ikhtiar seperti seekor burung,  beliau bersabda:
“Kalau seandainya kalian bertawakkal dengan tawakkal yang sebenarnya, niscaya Allah akan mencurahkan rezeki-Nya kepada kalian, sebagiamana seekor burung yang terbang dari sarangnya pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pada petang hari ia pulang dalam keadaan kenyang” (HR. Ahmad  No. 205)
Hal ini juga tidak bermakna seseorang dilarang meminta pendapat dan saran serta pertimbangan orang lain, justru perkara ini disyariatkan dalam agama, Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka (para sahabat) dalam urusan itu. Bila kamu membulatkan tekad, bertawakkah kepada Allah” (QS. Ali Imran: 159).
Pilihan Allah yang terbaik.
Bagi seorang muslim pilihan Allah adalah yang terbaik. Apa yang ditakdirkan oleh Allah, sesuai dengan keinginan kita ataupun tidak itulah yang terbaik. Terkadang baik menurut kita tetapi dalam pandangan Allah justru akan mendatangkan kemudharatan, begitu juga sebaliknya. Allah berfirman yang artinya:
 “Dan boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu amat baik buat kalian, dan boleh jadi kalian menyenangi sesuatu padahal itu amat buruk buat kalian. Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui” (Qs. al-Baqarah: 216)
Sikap seperti inilah yang akan membimbing setiap muslim menuju puncak maqam  (kedudukan) ar-ridho kepada Allah dalam setiap musibah dan kesulitan yang ditakdirkan untuknya. Ia tidak sekedar hanya bersabar tetapi lebih dari pada itu ia seakan-akan “menikmati” musibah dan ujian itu, karena dalam keyakinannya itulah yang terbaik.
Mendahulukan kepentingan agama dalam setiap urusan kita.
Persoalan agama haruslah ditempatkan di atas segala-galanya, jangan sampai hanya sekedar mencari kebahagian dunia yang bersifat sementara justru mengorbankan kepentingan agama dan akhirat kita yang bersifat permanen. Jangan sampai kita terjebak dalam gaya hidup sebagian orang (terutama orang kafir), yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Falsafah hidupnya hanya bertendensi duniawi hanyut bersama aliran syahwatnya.
Olehnya itu, di setiap pagi dan petang kita disunnahkan untuk membaca dzikir “Radhitu billahi Rabban, wabil Islami Diinan, wabi Muhammadin Nabiyyan” (HR. Muslim No. 386)) agar menjadi pengingat bahwa hidup ini untuk Allah, menegakkan agama-Nya dalam setiap tempat dan keadaan, serta tunduk dalam ajaran Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Riyadh, awal Rabiul awal 1431 H
Abu Ziyad al-Makassary
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Maaf, (kalau begitu) saya bukan “Salafi”

Manhaj salaf adalah sebuah manhaj yang diwariskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi terbaik ummat ini. Manhaj yang kamil (paripurna dan sempurna), syamil (universal), shafi (jernih) bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasulullah dan Ijma’ ummat ini.
Manhaj salaf, bukanlah milik individu, jama’ah, yayasan dan organisasi tertentu. Ia adalah manhaj yang hidup dalam kehidupan sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Manhaj yang difahami dan ditumbuh suburkan oleh Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud –Radhiyallahu’anhum-. Manhaj yang karenanya sahabat Hamzah dan Mus’ab serta keluarga Yasir rela mengorbankan hidupnya, syahid di jalan Allah. Manhaj yang diwarisi oleh Sufyan al-Tsauri, Umar ibn Abd. Azis, Hasan al-Basri dan Annakha’i. Manhaj yang mewarnai pokok-pokok pikiran dan amalan Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal. Manhaj yang ditorehkan dengan tinta pena oleh Ibn Jarir, Ibn Katsir, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud. Dan masih banyak lagi, orang-orang terbaik dan terdepan di setiap lintasan waktu dan tempat.
Manhaj yang telah “pasti’ diridhai oleh Allah dan dipersaksikan oleh Nabi-Nya -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. al-Taubah: 100)
عن عمران بن حصين رضي الله عنهما يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( خير أمتي قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم(  قال عمران فلا أدري أذكر بعد قرنه قرنين أو ثلاثا) متفق عليه
Artinya: Dari Imran Ibn Hasin –Radhiyallahu’anhuma- beliau berkata: Rasulullah –Shallallahu’alaihi wasallam- bersabda: “Sebaik-baik ummatku adalah masaku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka”. Imran berkata: Aku tidak mengingat apakah aku menyebut dua atau tiga masa setelah masa beliau. (Muttafaqun’alaihi)
Manhaj yang mampu mengantarkan seorang hamba untuk memahami posisinya sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah di muka bumi ini. Hamba Allah yang telah berikrar dengan hati, lisan dan amalnya untuk senantiasa berada di jalan-Nya –sabilullah-. Berakidah tanpa penyimpangan, beribadah dan bermuamalah tanpa penyelewengan. Hidupnya lillah dan fillah (untuk Allah dan di atas jalan-Nya).
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS. al-An’am: 162).
Pengikut manhaj salaf (baca: salafi), adalah seseorang yang berusaha untuk memurnikan ubudiyahnya hanya kepada Allah, dengan penuh keikhlasan dan ketaatan (ittiba’). Memahami hakikat tauhid, menjaga dirinya dari kesyirikan dan penyimpangan dari ajaran tauhid yang luhur. Ia sangat tahu bagaimana melahirkan nilai-nilai tauhid dalam kesehariannya. Ia tidak pernah ragu dalam ikhtiarnya, bahwa semuanya telah ditentukan oleh Allah. Apa yang ditakdirkan untuknya, sedikitpun tak akan pernah meleset. Dan apa yang tidak ditakdirkan, tidak akan sampai kepada dirinya walau sejuta usaha yang ia lakukan. Keridhoaanya karena Allah, kecintaannya karena Allah, dan kalaupun ia harus membenci, maka kebenciannya pun karena Allah.
Pengikut manhaj salaf, adalah seseorang yang berusaha mewarnai kehidupannya dengan adab dan akhlak yang mulia. Ia tidak hidup dalam dunianya sendiri (ekslusif), tidak hanya ramah dalam komunitasnya sendiri. Ia sangat tahu, bahwa manhaj ini harus ditularkan dan dicairkan dalam setiap ruang dan sudut kehidupan. Kepada yang tua, ia menjadi sosok yang hormat dan berbakti. Kepada si kecil, ia menjadi panutan yang diteladani. Kepada masyarakat, ia menjadi anggota yang berdedikasi tinggi, tanpa pembatas, mengayomi dan memahami kehidupan sekitar. Ia merindukan aturan bermasyarakat dan sistem pemerintahan  yang bersendikan ajaran Islam. Ia berdakwah dan berjuang untuk tegaknya “kalimatullah” di bumi Allah.
Lantas mengapa saat ini, sebagian orang-orang di sekitar kita merasa “alergi”, “risih” bahkan “takut” (baca: phobia) dengan orang-orang yang “mendeklarasikan” dirinya sebagai seorang “salafi”?. Apa yang salah? Manhajnyakah yang salah atau personnya?. Mengapa setiap disebut kata “salafi” yang tergambar adalah sosok yang mudah menyalahkan, dan membid’ahkan orang yang berselisih dengannya?. Yang hanya membatasi diri dengan kajian ustadz si fulan dan si fulan. Hanya membaca kitab dan fatwa ulama ahlussunnah tertentu. Jauh dari sikap tawadhu dan penghargaan terhadap orang lain. Alih-alih menjadi orang yang berada di tengah dengan sikap washatiyahnya, justru ia terpinggirkan dan terisolasi, hanya pada komunitas dan jama’ah tertentu. Jalan-jalan, tempat keramaian, sarana pendidikan, sarana kesehatan,  sarana bisnis, sarana media dan informasi masih jauh dari warna yang pernah eksis dan dirindukan oleh para guru dan panutan kaum salaf.
Kalau seseorang zuhud yang gemar mentazkiyah dirinya dari penyakit hati dan sifat tercela, berburuk sangka kepada sesama, dikatakan sebagai “sufi”. Maka biarlah, dalam hal ini saya menjadi sufi dan bukan salafi.
Kalau seseorang yang gemar berdakwah fardiyah yang selalu “risau’’ dengan keadaan ummat yang jauh dari masjid dan amalan-amalan sunnah lainnya, mengajak pelaku maksiat untuk tobat dan berubah kea rah yang “sedikit” lebih baik dikatakan sebagai “tablighi”, maka biarlah saya dicap sebagai tablighi dan bukan seorang salafi.
Kalau seseorang yang rindu akan tegaknya syariat Islam di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, mengembalikan sistem bernegara ke pangkuan khilafah  dituduh sebagai seorang “tahriri” maka biarlah saya berada dalam posisi seorang tahriri dan bukan seorang salafi.
Kalau seseorang yang kerap berusaha menasehati pemerintah, mengungkap dan menjelaskan penyimpangan pemerintah berkuasa, memilih jalan menerima tawaran masuk ke dalam shaf  pemberi kebijakan untuk bermar ma’ruf nahi mungkar dikatakan sebagai seorang “ikhwani”. Maka biarlah saya menjadi seorang ikhwani dan bukan salafi.
Kalau seseorang yang berusaha menawarkan manhaj salaf dengan cara yang lebih modern, lebih humanis, lebih membumi, lebih menyentuh kepada hajat hidup orang banyak, dituduh sebagai seorang “sururi” . Maka biarlah saya menjadi seorang sururi murni dan bukan salafi.
Maaf, (kalau begitu) saya bukan “salafi”, karena saya yakin bahwa soko guru kaum salaf tidak pernah mengajarkan bahwa manhaj ini adalah kavling dan milik seseorang, jama’ah dan gerakan tertentu. والله أعلم بالصواب

StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Senin, 27 Februari 2012

Anjing Untuk Penghina Nabi

عن جمال الدين إبراهيم بن محمد الطيبي أن بعض أمراء المغل تنصر فحضر عنده جماعة من كبار النصارى والمغل فجعل واحد منهم ينتقص النبي صلى الله عليه وسلم وهناك كلب صيد مربوط

Jamaluddin Ibrahim bin Muhammad ath Thibi bercerita bahwa ada seorang penguasa Mongol yang semula muslim berubah menjadi nasrani. Suatu hari sejumlah pembesar Nasrani dan Mongol kumpul di majelisnya. Saat itu ada salah satu dari mereka yang menghina Nabi. Di ruangan itu terdapat anjing pemburu yang terikat.

فلما أكثر من ذلك وثب عليه الكلب فخمشه فخلصوه منه

Tatkala orang tersebut berulang kali menghina Nabi, tiba tiba anjing tersebut menerkamnya dan berhasil mencakar cakar wajahnya sebelum akhirnya orang orang yang hadir bisa menyelamatkannya dari cakaran anjing.
وقال بعض من حضر هذا بكلامك في محمد صلى الله عليه وسلم
Salah seorang hadiri berkomentar, “Tindakan anjing tersebut gara gara hinaanmu terhadap Muhammad”.

فقال كلا بل هذا الكلب عزيز النفس رآني أشير بيدي فظن أني أريد أن أضربه

“Bukan”, tukas orang tersebut dengan tegas, “Namun anjing itu terlalu Ge eR. Dia lihat aku berisyarat dengan tanganku ke arahnya lantas dia mengira bahwa aku ingin memukulnya”, lanjut orang itu.

ثم عاد إلى ما كان فيه فأطال فوثب الكلب مرة أخرى فقبض على زردمته فقلعها فمات من حينه فأسلم بسبب ذلك نحو أربعين ألفا من المغل

Kemudian dia kembali menghina Nabi bahkan berpanjang kata menghina Nabi maka tiba tiba anjing tersebot meloncat dan menggigit kerongkongannya lalu menariknya hingga putus. Matilah orang tersebut seketika. Kejadian ini menjadi sebab ada kurang lebih 40 ribu orang Mongol masuk Islam [Durar Kaminah karya Ibnu Hajar al Asqalani as Syafii 1/386, Syamilah].
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Selasa, 14 Februari 2012

Aqu dapet coklat warna pink!

"TIDAK DIKATAKAN BERIMAN, BILA SESEORANG BELUM MENCINTAI SAUDARANYA SEPERTI IA MENCINTAI DIRINYA SENDIRI"

Kamu pernah nggak dikasih coklat yang warnanya pink pada tanggal 14 februari? Atau malah kamu yang ngasih? Pernah ya suatu hari tiba-tiba aku dikasih coklat pada tanggal 14 februari, saat itu aku nggak ngerti apa maksudnya. Kata temenku hari valentine. Trus aku baru tahu kalau kebiasaan seperti itu berasal dari orang-orang di luar islam, tapi temanku bilang "sayang islam nggak punya hari kasih sayang". Aku membela, kata siapa islam nggak punya hari kasih sayang, malah islam itu agama kasih sayang, rahmatan lil'alamin. Buktinya tiap kita mau melakukan apapun kita harus mengucapkan bismillahirrahmanirrahim. Bahkan rasulullah sendiri mengancam tidak disebut beriman sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Malah kasihan mereka yang bervalentine, mereka berkasih sayang hanya sekali dalam setahun

Di kalangan remaja, hari valentine seolah-olah menjadi hari raya mereka. Kalau mereka ditanya apa itu valentine, pasti yang langsung terbesit dalam memori mereka adalah 14 februari ditambah aksesoris serba pink atau ungu, trus tukeran coklat sama bunga, dan mereka happy-happy aja ngerayainnya. Padahal kalau kita tahu asalnya dari mana, tentu kita bakal mikir-mikir lagi untuk beliin coklat buat teman
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Tahukah kawan dari mana dan siapa valentine itu?

Kaisar claudius II (roma) pada masa pemerintahanya mengeluarkan fatwa berisi larangan menikah demi menciptakan prajurit yang tangguh. Dengan teori "nyeleneh" dia mengatakan bahwa seorang pemuda yang belum berkeluarga akan lebih baik performanya Ketika Berperang. Nah, muncullah seorang pahlawan yang bernama santo valentino. Ia seorang pendeta katholik yang secara diam-diam menikahkan setiap pasangan muda yang berniat menikah. Wal hasil setiap bayi yang lahir dari pasangan ilegal ini dikubur hidup-hidup demi menyembunyikan usahanya ini. Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya lapar juga, eh jatuh juga maksudnya. Kaisar mengetahui perbuatan si santo valentino ini dan menjatuhi hukuman pancung kepadanya. 200 tahun kemudian paus gelasius menetapkan tanggal 14 februari sebagai hari valentine untuk menghargai perjuangan santo valentino ini.
Sebenarnya masih banyak lagi cerita yang menghubung-hubungkan dengan hari valentine, diantaranya tanggal 14 februari itu adalah pesta yang diadakan oleh dewa, pada hari itu semua orang dibebaskan untuk memilih pasangannya sendiri. Iih! Kayak binatang aja!. Sebenarnya mereka sendiri tidak pasti tanggal berapa hari valentine itu, ada yang tanggal 22 januari,3 maret, tergantung keinginan mereka. Yang pasti buat kita orang islam setiap hari kita tebar kasih sayang, soz agama kita tuh rahmatan lil alamin coy...!.

Nah, buat generasi islam, pantas nggak kalau kita ikut ngerayain hari valentine ini? Toh kita punya hari kasih sayang seumur hidup. Seorang ustadz pernah menulis dalam lembar buletinya ,"hanya ada 2 jenis manusia yang merayakan valentine; kapitalis yang keji, dan orang bodoh yang tertindas".
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Hukum membaca injil dan taurat


Seorang bertanya kepada syeikh bin baz rahimahulah : apakah boleh seorang muslim membaca kitab injil sekedar ingin tahu isinya? Dan apakah beriman kepada kitab-kitab samawi tersebut berarti meyakini bahwa kitab tersebut datang dari allah atau meyakini apa yang ada di dalamnya?
Jawab:
Setiap muslim wajib beriman bahwasanya kitab samawi tersebut datang dari allah, seperti ; injil, taurat dan zabur, beriman bahwasanya allah telah menurunkan kitab-kitabnya kepada para nabi dan menurunkan kepada mereka suhuf-suhuf(lembaran) yang didalamnya ada perintah dan larangan, peringatan dan berita tentang kejadian dimasa lalu,surga dan neraka,dll. AKAN TETAPI TIDAK BOLEH DI BACA DAN DI AMALKAN karena itu merupakan suatu hal yang membahayakan akidah sehingga boleh jadi membenarkan yang bathil atau mendustakan kebenaran sebab di dalamnya telah dirubah dan diganti oleh orang –orang yahudi dan nasrani .
Dan sungguh allah telah mencukupkan kita dengan kitab yang sangat agung yaitu alqur’anulkarim.
Dan telah diriwayatkan dari rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau pernah melihat di tangan umar suatu lembaran dari taurat sehingga beliau marah dan bersabda :”apakah engkau ragu wahai umar ? sungguh aku telah datang dengan sesuatu yang telah jelas , seandainya musa masih hidup tidak ada jalan keluar baginya kecuali mengikuti syari’at yang aku bawa )alaihi solatu wa ssalam .
Jadi kami menasehati kaum muslimin untuk tidak berpegang kepadanya (taurat,zabur dan injil) dan jangan membacanya, bahkan jika kalian mendapatkan sesuatu darinya maka kuburkan atau bakarlah karena sesungguhnya al-qur’an telah datang menyempurnakannya , dan adapun perubahan-perubahan dan penyimpangan yang tejadi pada kitab-kitab tersebut merupakan sesuatu yang mungkar dan bathil maka wajib setiap muslim untuk berhati-hati dan menjauhinya .
Adapun bagi seorang alim yang telah memahami agama ini dengan benar terkadang dibolehkan baginya untuk membaca dengan tujuan untuk membantah syubhat-syubhat yang datang dari yahudi dan nashara . sebagaimana nabi sallallahu alaihi wa sallam pernah menyuruh untuk mendatangkan taurat ketika orang yahudi mengingkari hukum rajam dan setelah diperiksa dan diteliti ternyata didapatkan didalamnya tentang hukum rajam sehingga merekapun mengakuinya .
Maksudnya adalah bahwa para ulama yang memahami syari’at ini terkadang membutuhkan untuk mempelajarinya dengan tujuan kemaslahatan islam seperti membantah musuh-musuh allah , menjelaskan keutamaan al-qur’an yang berisi kebenaran dan petunjuk . dan adapun  masyarakat awwam atau semisalnya maka tidak diperbolehkan baginya untuk hal tersebut.
Bahkan jika di dapatkan di antara mereka kitab-kitab tersebut di wajibkan untuk membakar atau menguburkanya di tempat yang bersih sehingga tidak tersesat dengannya.(tasdiq)
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook

Cinta, Penghormatan & Bakti Orang-orang Sholih Kepada Orang Tua


Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” (Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “ Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk karena ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Diambil dari Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (Diambil dari al-Birr wasilah, karya Ibnu Jauzi)
Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’)

Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)

Hafshah binti Sirin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Diambil dari Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi).

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, “ Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal? Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’, karya adz-Dzahabi)
Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” (Dari kitab Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)

Kisah Uwais al-Qorni
Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir”, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”, “Betul,” sahutnya. Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu.” Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehingga tidak dikenal itu lebih ku sukai.” (HR. Muslim)
StumpleUpon DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google Twitter FaceBook